Home » News » Produsen Kopi Terbesar, Jokowi: Indonesia Memiliki Potensi Besar

Produsen Kopi Terbesar, Jokowi: Indonesia Memiliki Potensi Besar



Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut Indonesia berpotensi besar menjadi produsen kopi terbesar di dunia, menggeser dominasi tiga negara, Brasil, Vietnam, dan Kolumbia. Hal tersebut dikarenakan Indonesia memiliki lahan yang luas untuk tanaman kopi.

Produsen Kopi Terbesar, Jokowi: Indonesia Memiliki Potensi Besar

Presiden Joko Widodo

Hal ini disampaikan Jokowi yang membakar semangat para penggiat, mulai dari barista, pengusaha kopi, sampai artis penikmat kopi dalam acara Ngopi Bareng Bersama Presiden di Istana Bogor, Jawa Barat, Minggu (1/10/2017).

Baca juga : Aksi 229 Berlangsung Dengan Tertib, Taufik Kurniawan Bersyukur

“Melihat kopi di Gayo, dan daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, sampai Papua, Indonesia punya kesempatan untuk membawa Indonesia sebagai produsen kopi terbesar di dunia, karena lahannya ada,” Jokowi mengatakan.

Jokowi menuturkan, saat ini Indonesia berada di posisi ke-4 dunia sebagai produsen kopi terbesar. Peringkat ini di bawah Brasil, Vietnam, Kolumbia, baru ditempati Indonesia.

Presiden lebih jauh menyarankan supaya petani kopi tidak hanya terjebak pada tingkat budidaya atau on farm saja. Nilai tambah dapat berkali lipat apabila kopi yang dijual sudah diproses ke tingkat lebih atas sampai ke tangan konsumen.

“Di Aceh misalnya, saya lihat terakhir ke sana yang dijual dalam bentuk green bean (belum dipanggang). Kenapa tidak ada step yang di atasnya lagi, atau di atasnya lagi. Padahal keuntungan terbesar kalau sudah di proses sampai tersaji kopi di pembeli,” keluh Jokowi.

Beruntung, saat ini harga jual kopi mentah (green bean) di tingkat petani sekitar Rp 80 ribu per Kilogram (Kg) atau lebih tinggi dibanding periode tahun-tahun sebelumnya yang hanya sekitar Rp 20 ribu per Kg.

“Harganya sudah meningkat ya. Saya kira itu karena minum kopi jadi lifestyle anak-anak muda kita, nongkrong di warung kopi, bawa laptop, ponsel, minum kopii hitam atau cappucino,” mantan Gubernur DKI Jakarta itu menerangkan.

Intinya, saran Jokowi, harus menguasai proses bisnisnya. Setelah panen kopi, komoditi ini harus diproses sedemikian rupa dengan kemasan yang menarik, peracikan yang bagus, dan pemasaran yang tidak lagi melalui jalur konvensional, tapi juga merambah online.

“Kalau proses bisnis betul-betul dikuasai, saya pikir kita bisa bertarung di pasar dunia. Harus ada keberanian anak-anak muda kita untuk merebut peluang itu, terutama di pasar domestik, jangan sampai dikuasai orang lain,” tukas Jokowi.

(Seph – sisidunia.com)