Home » News » Polisi Bongkar Sindikat Order Fiktif Ojek Online

Polisi Bongkar Sindikat Order Fiktif Ojek Online



Jakarta – Kasus penipuan kini semakin marak terjadi. Jenis-jenis penipuan pun kini semakin beraneka ragam.

Polisi Bongkar Sindikat Order Fiktif Ojek Online

Polisi Bongkar Sindikat Order Fiktif Ojek Online

Baru-baru ini, telah terungkap kasus penipuan yang melibatkan aplikasi ojek online (ojol). Sebuah sindikat melakukan penipuan dengan modus order fiktif penumpang ojol GoJek.

Para pelaku memiliki software khusus yang bisa membuat order fiktif ke GoJek. Software tersebut membuat seakan benar-benar ada perjalanan dalam sistem GoJek. Padahal nyatanya tak ada perjalanan yang dilakukan.

Tak tanggung-tanggung, dalam sehari sindikat ini bisa meraup uang sebesar Rp 10 juta. Pasalnya, sindikat ini mengoperasikan puluhan akun dalam aksinya.

Pelaku yang berhasil dibekuk oleh polisi berjumlah empat orang. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono, menjelaskan bahwa setiap pelaku memiliki 15-25 akun. Dalam sehari, pelaku dapat melakukan 24 perjalanan tanpa penumpang.

“Dalam sehari satu akun mendapat keuntungan Rp 350 ribu, tapi tiap orang memiliki 15 hingga 25 akun. Mereka mendapatkan keuntungan berkali-kali lipat. Kalikan saja per akun Rp 350 ribu, ada empat orang, dan dilakukan setiap hari.” terang Argo.

Sindikat tersebut berhasil terungkap setelah pihak GoJek melapor ke polisi. Pihak kepolisian lantas langsung mengamankan keempat pelaku dengan inisial RP, RW, CP, dan KA dari Komplek Ruko Duta Mas, Jelambar, Jakarta Barat.

Untuk mencari tahu besaran kerugian yang dialami GoJek, Argo mengaku bahwa penyidik Subdit Cybercrime masih mendalami kasus tersebut. Pihak GoJek mengalami kerugian lantaran selalu memberikan fee atas setiap poin perjalanan fiktif tersebut.

Baca juga : Jadi Istri Gubernur Jatim, Arumi Bachsin Dapat Wejangan Dari Iriana Jokowi

Polisi juga masih mencari tahu sebenarnya sudah berapa lama sindikat tersebut beroperasi. Berdasarkan pengakuan pelaku, sindikat tersebut sudah melakukan penipuan sejak November 2018 hingga kini.

“Dengan kemampuan teknologi, Subdit Cybercrime akan melacaknya. Termasuk mencari jumlah total kerugian yang dialami GoJek.” jelas Argo.

Para pelaku tersebut dikenakan Pasal 35 Juncto Pasal 51 Ayat (1) UU Nomor 19/2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Mereka terancam hukuman pidana 12 tahun penjara atau denda paling banyak Rp 12 miliar.

(Png – sisidunia.com)