Home » News » Polisi Berhasil Ringkus Empat Pelaku Pembuat Order Fiktif Ojol

Polisi Berhasil Ringkus Empat Pelaku Pembuat Order Fiktif Ojol



Jakarta – Empat orang pelaku pembuat order fiktif dalam aplikasi transportasi online Gojek ditangkap Jajaran Subdit IV Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya. Mereka berinisial RP, RW, CP, dan KA.

Polisi Berhasil Ringkul Empat Pelaku Pembuat Order Fiktif Ojol

Polisi Berhasil Ringkus Empat Pelaku Pembuat Order Fiktif Ojol

Keempatnya diketahui membuat sebuah perangkat lunak atau software khusus yang dipasang di ponsel untuk membobol aplikasi Gojek. Tak main-main, mereka meraup uang Rp 10 juta setiap harinya.

Baca juga : Belasan Orang Tewas Akibat Kampanye di Nigeria

“Dengan software yang terpasang di ponsel tersebut, para pelaku mengelabuhi sistem aplikasi Gojek. Pasalnya dengan software tersebut, para pelaku bisa menunjukkan bahwa sedang menarik penumpang dari order yang diterima. Para tersangka ini melakukan order fiktif seakan-akan ada penumpangnya, padahal tidak ada,” kata Argo di Polda Metro Jaya, Rabu (13/2/2019).

Dalam aksinya, keempat pelaku mengoperasikan puluhan akun Gojek dan memesan order fiktif. Modus para pelaku terungkap usai pihak Gojek mengendus perangkat lunak yang tidak kenal masuk ke sistem aplikasi. Gojek kemudian melaporkan kejadian ini ke polisi.

“Dari laporan tersebut, kepolisian melakukan penelusuran dan akhirnya menangkap empat pelaku di Komplek Ruko Duta Mas, Jelambar, Jakarta Barat, pada Jumat, 1 Februari 2019,” ungkap Argo.

Dari tangan pelaku, polisi mengamankan sejumlah barang bukti. Di antaranya puluhan ponsel yang digunakan untuk mengorder dan bertransaksi fiktif, puluhan kartu ATM, sejumlah modem, dan kartu identitas.

“Masing-masing pelaku diketahui memiliki 15 hingga 25 akun Gojek. Dari satu akun, mereka mampu mendapatkan order hingga 24 kali per hari. Dengan jumlah orderan tersebut, mendapat untung sebesar Rp 350 ribu untuk tiap akunya. Ada empat orang yang melakukan order fiktif setiap harinya,” bebernya.

Saat diperiksa pelaku mengaku telah melancarkan aksinya sejak November 2018 lalu. Saat ini penyidik masih pengakuan para pelaku.

“Tim penyidik masih mendalami, dan dengan kemampuan teknologi, Subdit Cybercrime akan melacaknya, termasuk mencari jumlah total kerugian yang dialami GoJek,” pungkas Argo.

Atas perbuatannya, para pelaku dijerat Pasal 35 Juncto Pasal 51 Ayat 1 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang informasi elektronik dengan ancaman hukuman pidana 12 tahun penjara atau denda paling banyak Rp 12 miliar.

(Png – sisidunia.com)