Home » Hiburan » Vanessa Angel Penuhi Panggilan Polisi Sebagai Tersangka

Vanessa Angel Penuhi Panggilan Polisi Sebagai Tersangka



Surabaya – Pada hari rabu (30/1/2019), artis VA memenuhi panggilan penyidik Subdit V Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jatim. Seperti diketahui, artis VA telah ditetapkan sebagai tersangka dugaan kasus prostitusi artis.

Vanessa Angel Penuhi Panggilan Polisi Sebagai Tersangka

Vanessa Angel

Artis VA didampingi tim penasihat hukum keluar dari mobil dan menuju ke gedung Dirreskrimsus Polda Jatim sekitar pukul 11.00 WIB, dengan mengenakan busana kemeja putih dan kacamata hitam. Kapolda Jatim, Irjen Pol Luki Hermawan, menuturkan bahwa penetapan tersangka artis VA berdasarkan rekam jejak digital dari tersangka muncikari ES.

“Dari situ jelas ada foto dan video dan keterlibatan artis VA dalam prostitusi online. Termasuk penyebaran foto dan video,” tutur Irjen Pol Luki di Mapolda Jatim.

Penetapan VA sebagai tersangka itu juga sesuai dengan hasil gelar, dan berdasarkan pendapat dari beberapa ahli, Irjen Pol Luki menegaskan.

“Ada ahli pidana, ahli bahasa, ahli ITE dan ahli Kementerian Agama dan MUI dan beberapa bukti yang sangat mengaitkan dalam transasksi komunikasi ini sangat menguatkan saudari VA menjadi tersangka,” tambahnya

Dari hasil penyidikan, Subdit V Siber Ditreskrimsus Polda Jatim menemukan foto dan video porno yang diduga artis VA. Gambar tak senonoh itu ditemukan dalam ponsel milik muncikari ES.

Selain foto pose telanjang, ada pula video tak pantas dan melanggar norma susila. Foto dan video itu dikirim ke muncikari diduga untuk menarik pelanggan untuk menggunakan jasa esek-esek artis VA.

Baca juga : Kedekatan Syahrini dan Reino Barack Kini Menjadi Perbincangan Publik

“Ini mungkin sesuatu yang baru di mana yang sebelumnya jadi saksi korban (dalam kasus prostitusi), bisa menjadi tersangka. Ini akan jadi yurisprudensi,” ujar Irjen Pol Luki.

Dalam perkara ini, artis VA dijerat Pasal 27 ayat 1 UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Pasal itu berbunyi, “Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan”.

(Png – sisidunia.com)