Home » News » Seorang Paman Tega Cabuli Tiga Ponakan Kakak-Beradik Sejak 2013

Seorang Paman Tega Cabuli Tiga Ponakan Kakak-Beradik Sejak 2013



Pontianak – Kasus pencabulan tiga kakak-beradik yang diduga dilakukan oleh pamannya sendiri digelar Polda Kalimantan Barat. Pencabulan itu dilakukan tersangka sejak 2013, usai ayah korban meninggal dunia dan ibunya menikah lagi di Malaysia.

Seorang Paman Tega Cabuli Tiga Ponakan Kakak-Beradik Sejak 2013

Ilustrasi

Ketiga korban tinggal di rumah pamannya di sebuah desa di Kecamatan Pontianak Utara, Pontianak, Kalbar. Saat itulah sang paman beraksi, mencabuli keponakannya.

Baca juga : Inilah Sosok Guru Yang Viral Dibully Oleh Muridnya

Dalam gelar perkara tertutup yang dipimpin Kapolda Kalbar, Irjen Didi Haryono di Polresta Pontianak, Selasa (13/11/2018) sore, dua tersangka yakni AK dan AT turut dihadirkan.

Kasat Reskrim Polresta Pontianak, Kompol Muhammad Husni Ramli mengungkapkan, berdasarkan hasil gelar perkara tersebut, diketahui bahwa pencabulan yang dilakukan para tersangka terhadap ketiga korban sudah berlangsung dalam lima tahun.

Mulanya, kata Husni, ketiga korban sebut saja Bunga (15), Melati (12) dan Mawar (9) tinggal di rumah pamannya, AU di Pontianak Utara, pasca-ayah dan kakeknya meninggal dunia, sementara ibunya bekerja dan menikah lagi di Malaysia.

“Anak paling tua yang pertama menjadi korban AU,” kata Husni.

Perilaku biadap tersebut pun kembali dilakukan AU secara berulang-ulang. Hingga akhirnya Bunga pindah ke rumah pamannya, AK. Sementara kedua adiknya, Melati dan Mawar tetap tinggal di rumah AU.

Bunga rupanya kembali dicabuli oleh AK. Dua adiknya yang tinggal di rumah AU pun mengalami nasib serupa, dicabuli AT.

Menurut Husni, ketiga korban hanya bisa pasrah. Mereka tak berani membongkar perilaku bejat tersangka. Saking takutnya, mereka sempat tidur di WC.

“Korban didoktrin oleh pelaku. Pelaku bilang ke korban, kalau pelaku masuk penjara nanti tidak ada yang menghidupi dan mengurus korban. Karena itu, korban pun bungkam,” kata Husni.

Pada 2017, perbuatan bejat tiga pelaku pencabulan tersebut mulai terbongkar. Tapi, polisi masih sulit mengungkap karena korban bungkam.

Akhirnya pada 20 Agustus 2018, korban didampingi keluarganya melaporkan ke Polresta Pontianak. Polisi langsung menyelidiki dan pada September lalu, AK ditangkap.

“Dan satu pelaku inisial AT kita amankan pada Oktober 2018 kemarin. Kemudian masih ada satu orang pelaku lagi inisial AU, saat ini masih kita kejar,” katanya.

Tersangka dijerat dengan Pasal 81 dan Pasal 82 Undang-Undang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman paling rendah lima tahun penjara.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kalbar, Alik Rosyad berharap polisi segera menangkap satu pelaku yang masih buron.

“Saya kira tidak terlalu sulit bagi polisi untuk menangkapnya pelaku yang buron ini. Apalagi indentitasnya sudah jelas,” katanya.

Ia menegaskan, dalam penanganan kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur warga Pontianak Utara ini, ada dua yang menjadi konsen. Pertama soal jaminan advokasi terkait penegakan hukum. Dan kedua pendampingan psikologis terhadap korban-korban tersebut.

(Png – sisidunia.com)