Home » Hiburan » Joko Anwar Gerah Pihak Yang Gunakan Film A Man Called Ahok dan Hanum & Rangga Sebagai Political Bully

Joko Anwar Gerah Pihak Yang Gunakan Film A Man Called Ahok dan Hanum & Rangga Sebagai Political Bully



Jakarta – Pada 8 November lalu, tiga film Indonesia dirilis secara bersamaan. Film-film tersebut di antaranya “A Man Called Ahok”, “Hanum & Rangga”, serta “Wahana Rumah Hantu”.

Joko Anwar Gerah Pihak Yang Gunakan Film A Man Called Ahok dan Hanum & Rangga Sebagai Political Bully

Joko Anwar

“A Man Called Ahok” dan “Hanum & Rangga” yang paling banyak disorot, dari ketiga film tersebut. Persaingan kedua film tersebut dikarenakan tokoh-tokohnya yang masih berkaitan dengan dunia politik.

Untuk diketahui, “A Man Called Ahok” mengisahkan tentang hubungan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dengan sang ayah. Sedangkan “Hanum & Rangga” merupakan film adaptasi dari novel karya Hanum Rais yang kini juga terjun ke dunia politik sebagai calon legislatif pada Pemilu 2019.

Masing-masing penggemar “A Man Called Ahok” dan “Hanum & Rangga” menyatakan bahawa film yang mereka favoritkan jauh lebih baik dibanding yang lain. Persaingan jumlah penonton kedua film pun tak terelakkan dan semakin memanas karena pernyataan Hanum Rais baru-baru ini.

Rupanya juga menarik perhatian Joko Anwar, dengan ramainya permasalahan tersebut di media sosial. Sutradara film “Pengabdi Setan” ini menyayangkan tindakan segelintir oknum yang memanfaatkan karya film untuk serangan politik. Joko juga mengingatkan bahwa sebuah film dibuat oleh puluhan bahkan ratusan orang dengan pandangan politik yang berbeda.

Baca juga :  Luar Biasa, Jumlah Subscribers Atta Halilintar Kini Salip Ria Ricis

“Film kok dijadikan alat political bully. Same on you, dari pihak mana aja. Shame on you. Jauhi film dari kelakuan politik menyebalkanmu lah. Satu film dibuat oleh puluhan, bahkan ratusan orang yang punya pandangan politik beda, atau nggak peduli sama politik seperti kamu. Shame.” tulis Joko Anwar.

“Nah ini! SAY IT LOUDER! Lelah melihat lini masa kalau udah bahas kedua film dengan tujuan saling menjatuhkan film a lebih laku. Si film anu begini. Si anu begitu. Membandingkan film bagus atau nggak tuh cukup datang ke bioskop lalu tonton. Abis itu review secara seimbang,” komentar akun @misstyameyo***.

“Kali ini saya tidak setuju dengan anda. Kedua film tersebut memang memang terkait secara langsung dgn tokoh politik dan partisan partai politik. Jadi anda naif kalau berharap orang tidak mengaitkannya dgn politik. Apalagi setelah si putri hoax memulai perang dgn hoax. Shame on u,” tulis akun @lusy***.

(Png – sisidunia.com)