Home » Gaya Hidup » Benarkah Konsumsi Daging Anjing Sebabkan Rabies?

Benarkah Konsumsi Daging Anjing Sebabkan Rabies?



Jakarta – Anjing merupakan hewan yang paling setia. Sebagai hewan peliharaan, anjing dapat membawa kenyamanan dan kebahagiaan. Anjing bahkan dapat melindungi manusia dari bahaya melalui pengabdiannya di tenaga kepolisian, tim penyelamat dan militer.

Benarkan Konsumsi Daging Anjing Sebabkan Rabies?

Ilustrasi

Namun, ada kabar yang paling menyedihkan dari hewan yang lucu ini. Setiap tahunnya, jutaan anjing diperdagangkan untuk memasok kebutuhan daging anjing di seluruh Indonesia. Melalui investigasi berskala nasional, Jakarta Animal Aid Network (JAAN) menemukan adanya kekejaman dan kebrutalan yang dilakukan dalam metode penangkapan, transportasi dan penjagalan anjing.

Baca juga : Inilah Kadar Penggunaan Gula dalam Sehari Menurut Pakar Nutrisi

“Saat mulai investigasi sempat kaget. Perjalanan dari kota ke kota, dari pulau ke pulau, begitu ramai. Kami juga melakukan investigasi di Jakarta. Kalau di Jakarta stok daging anjing kan tidak ada. Jadi anjing-anjing tersebut di datangkan dari cianjur dan sukabumi. Dimana kota tersebut rabiesnya masih sangat tinggi. Kami juga lihat cara potongnya di pemotongan hewan, bagaimana cara mereka potong dan sisa daging yang tak terpakai mereka buang. Sangat tidak higienis,” kata Karin Franken, Pendiri Jakarta Animal Aid Network (JAAN), saat ditemui dalam Konferensi Media dalam Kampanye Dog Meet Free Indonesia, di Jakarta Pusat, Senin (5/11/2019).

Banyak di antara anjing yang dikonsumsi berasal dari hewan peliharaan yang dicuri dan dipungut dari jalanan serta perkampungan, tanpa mengetahui kesehatannya. Penderitaan luar biasa yang dialami jutaan anjing setiap tahunnya sangat tidak terbayangkan. Karena masih tingginya permintaan konsumsi daging anjing di berbagai daerah di Indonesia, membuat Indonesia berisiko tinggi terhadap penyakit rabies.

“Dari research kita sekira 7 persen yang makan daging anjing. Sehingga sekiranya ada 93 persen tidak memilih makan daging anjing, tapi karena 7 persen tersebut, 93 persen yang tidak mengonsumsi daging anjing harus menanggung risiko rabies itu juga, it’s not fair,” ungkapnya.

Karin juga mengungkapkan dalam sekali perjalanan dari ciancuratau sukabumi menuju Jakarta, sekiranya ada 30 – 40 anjing yang dibawa dalam mobil pickup yang ditutupi terpal. Agar tidak seketahui orang lain. Hal ini tentu merupakan tindakan yang melanggar hukum peraturan berkaitan dengan kesehatan manusia dan kesejahteraan hewan sehingga harus segera dihentikan.

Memang tidak mudah bagi pemerintah untuk mengentikan konsumsi daging anjing, kendalanya terdapat pada begitu luasnya pintu masuk dari banyak celah. Dokter hewan dr Sugiarto, dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Republik Indonesia mengatakan bahwa Indonesia masih masuk ke dalam negara yang berisiko terhadap penyakit rabies.

“Data di pusat kami menyatakan bahwa Indonesia masih memiliki 264 kabupaten kota yang endemis rabies. Data tersebut mengungkapkan tahun 2017 hanya terdapat sertifikasi dari 145 kabupaten kota yang di Indonesia yang mendiklair eliminasi bebas rabies. Artinya hanya sekira 55% persen kota dan kabupaten yang sudah mendiklar untuk eliminasi rabies,” paparnya

Perlu diketahu bahwa rabies tidak menular melalui makanan. Lalu apa hubungannya dengan mengonsumsi daging anjing? Faktor risikonya terdapat pada permintaan daging anjing. Saat permintaan daging anjing terus meningkat, maka terjadi pepindahan tempat dari satu area yang masih tinggi rabies, kemudian pindah pada area lain yang sudah terbebas rabies.

DKI Jakarta merupakan salah stu dari 9 kota di Indonesia yang sudah terbebas dari rabies, namun karena masih adanya permintaan daging anjing tidak menutup kemungkinan Jakarta memiliki risiko tinggi penyakit rabies.

(Png – sisidunia.com)