Home » News » Ratna Sarumpaet Ajukan Menjadi Tahanan Kota ke Polda Metro

Ratna Sarumpaet Ajukan Menjadi Tahanan Kota ke Polda Metro



Jakarta – Pelaku kasus penyebaran hoaks Ratna Sarumpaet mengajukan diri sebagai tahanan kota ke Polda Metro Jaya. Adapun pengajuan itu akan dilakukan pada Seni (8/10/2018).

Ratna Sarumpaet Ajukan Menjadi Tahanan Kota ke Polda Metro

Ratna Sarumpaet

“Itu baru kami akan ajukan kemungkian Senin paling lambat,” kata Pengacara Ratna Sarumpaet, Insank Nasruddin di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Sabtu (6/10/2018).

Baca juga : Polisi Geledah Rumah Ratna Sarumpaet

Ia berharap pengajuan itu dikabulkan kepolisian lantaran perempuan berusia 69 tahun itu akan menjalani pengobatan secara rutin. Sebab, jika tetap menjadi tahanan Polda, dikhawatirkan kesehatan yang bersangkutan memburuk.

“Penahanan rutan dan kota jelas beda. Dia kan kalau penahanan kota bisa berobat, dia bisa lebih gampang ke rumah sakit,” ujarnya.

Menurut dia, kesehatan Ratna Sarumpaet cukup baik bila dibandingkan dengan teman-teman seusianya. Tapi, di usia lanjut sudah hal yang wajar bila harus menjalani pemeriksaan rutin.

Insank menceritakan pengalamannya saat menemani Ratna untuk melengkapi berita acara pemeriksaan (BAP), kemarin. Kata dia, Ibunda Atiqah Hasiholan itu harus mengonsumsi berbagai obat dan vitamin agar dirinya selalu segar.

“Secara fisik karena umurnya sudah lanjut jadi pasti punya penyakit. Hanya penyakitnya apa itu kurang etiklah kalau saya harus menyampaikan ke publik,” jelasnya.

Insank menambahkan, perubahan status menjadi tahanan kota juga bisa dilihat dari sisi kemanusiaan. Di tengah usia beliau yang sudah sangat tua, maka wajar saja bila ia mendapatkan keringanan khusus dari penyidik Polda Metro Jaya.

“Umurnya dia ini sudah sangat lanjut, sudah mendekati 70 tahun kok. Alasan-alasan itulah yang menjadi dasar kami akan mengajukan pengalihan status penahanan,” pungkasnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Ratna ditangkap atas kasus dugaan penyebaran berita bohong atau hoaks atas penganiayaan terhadap dirinya. Dia disangkakan dengan Pasal 14 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan Pasal 28 jo Pasal 45 Undang-Undang ITE. Atas kasus tersebut, Ratna terancam 10 tahun penjara.

(Png – sisidunia.com)