Home » Travel & Kuliner » Rayakan Tahun Baru Hijriah, Turis Berdatangan ke Bandung

Rayakan Tahun Baru Hijriah, Turis Berdatangan ke Bandung



Kabupaten Bandung – Masyarakat Kampung Adat Cikondang, Kabupaten Bandung menyambut tahun Baru 1440 Hijriyah. Hal tersebut membuat turis berdatangan.

Rayakan Tahun Baru Hijriah, Turis Berdatangan ke Bandung

Rayakan Tahun Baru Hijriah, Turis Berdatangan ke Bandung

Pantauan dilokasi, Kamis (27/9/2018) kemarin, Upacara Adat Wuku Taun ini digelar di rumah adat Cikondang yang berada di Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan. Pada pukul 13.00 WIB, hadir puluhan warga sekitar hingga wisatawan.

Baca juga : Unik, Kafe di Korea Selatan Ini Berkonsep Webtoon

Sebelum pelaksanaan upacara dilakukan pembersihan benda pusaka seperti keris, pisau, tombak, golok dan lainnya. Kegiatan ini hanya dapat dilakukan oleh keturunan dari leluhur Kampung Adat Cikondang.

Juru Kunci Kampung Adat Cikondang, Abah Anom mengatakan, Upacara Adat Wuku Taun adalah upacara adat yang dilakukan pada awal tahun Hijriyah. Digelar setiap satu tahun sekali, persiapannya memakan waktu selama 15 hari dari Tanggal 1 – 15 Muharam.

“Upacara adat ini digelar sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT,” katanya usai Upacara Adat Wuku Taun. Alhamdulillah sejak didirikan 360 tahun yang lalu, upacara adat ini terus dilakukan setiap menutup dan membuka tahun,” ungkapnya.

Upacara adat tersebut dikenalkan oleh sesepuh kampung adat bernama Ma Empuh tahun 1658 silam dan dilanjutkan oleh turun temurunnya, termasuk Abah Anom. Tidak ada yang istimewa dalam upacara adat ini. Acara tersebut digelar sebagai ajang silaturahmi dengan sanak sodara keturunan warga Kampung Adat Cikondang yang tinggal di luar kota.

“Tasyakur binimah kepada Allah dan silaturahmi dengan sodara. Alhamdulillah Tahun 1439 Hijriyah sudah dilalui, semoga Tahun 1440 Hijriah kami banyak mendapat kebaikan,” ungkapnya.

Upacara adat itu ditutup dengan acara makan bersama sekitar Pukul 15.30 WIB atau sebelum Shalat Ashar. Tidak hanya warga Kampung Adat Cikondang, upacara adat itu juga dinantikan oleh warga lainnya yang ingin menyaksikan upacara adat, salah satunya Rian (30) warga Bekasi.

“Sengaja datang kesini untuk menyaksikan upacara adat. Saya datang kesini sejak kemarin, sengaja datang lebih awal untuk melihat persiapan-persiapan yang dilakukan,” ujarnya.

Sementara warga lainnya, Dedeh (36) datang membawa dua anaknya Iman (12) dan Isma (7) untuk menambah ilmu pengetahuan.

“Saya tinggal di Banjaran, bukan keturunan warga adat. Datang ke sini bersama anak-anak untuk melihat prosesi upacara adat. Iya, buat menambah ilmu oengetahuan kepada anak-anak,” katanya.

Sajian makanan

Olahan makanan yang disiapkan oleh warga kampung adat disuguhkan untuk tamu yang datang ke acara upacara adat. Makanan tersebut disajikan untuk warga yang datang ke upacara adat ini dan diberikan ke warga sekitar.

Makanan yang disajikan, di antaranya tumpeng, soup sayur ayam kampung, tumis kentang, gorengan kasreng, goreng oncom, asin pepetek, krupuk kemplang bereum dan cabe gendot bumbu tersaji untuk para tamu.

“Bahan bakunya semua dari alam, tidak boleh ada bahan kimia sedikitpun. Harus menggunakan gula merah tidak boleh gula putih,” ucapnya.

Dari sekian banyak makanan yang disajikan oleh masyarakat, rujak suro menjadi makanan yang dinantikan oleh warga. Rujak suro itu disajikan ke dalam gelas seng dan sendok plastik. Makanan manis dan segar di mulut itu disajikan sebagai hidangan penutup setelah warga mencicipi makanan lainnya.

“Makanan banyak. Tapi ciri khasnya rujak suro, rujak yang berbahan baku dari gula merah yang dicampurkan dengan pisang mas dan nanas. Rujak suro ini disajikan sebagai hidangan penutup untuk warga,” ucap Abah.

Cerita Kampung Adat Cikondang

Jauh sebelum wilayah Lamajang, Kecamatan Pangalengan dipenuhi ratusan bangunan, terdapat sebuah kampung yang bernama Kampung Adat Cikondang. Kampung ini merupakan satu-satunya kampung adat yang berada di wilayah Bandung Selatan setelah Kampung Adat Mahmud dan Kampung Adat Cireundeu (kini Cimahi).

Abah Anom mengatakan dulunya di kampung tersebut hanya terdapat sekitar 40 rumah adat. Namun, pada tahun 1942 terjadi kebakaran hebat sehingga menyisakan satu rumah adat yang kini masih dilestarikan.

“Dulu ada 40 rumah, tahun 1942 terjadi kebakaran tinggal ini satu,” ujar Abah.

Meski rumah tersebut sudah terbakar, menurut pepatah leluhurnya rumah tersebut tidak boleh didirikan kembali. Hal itu dikarenakan sudah menjadi adat istiadat kampung tersebut.

“Panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh di sambung. Bentuk, ukuran dan rupa tidak boleh dirubah,” tuturnya.

Rumah adat tersebut terbuat dari bahan baku bambu, kayu dan atapnya terbuat dari ijuk. Selama berdiri 360 tahun lamanya, rumah itu baru direnovasi sebanyak dua kali.

Bahan baku rumah tersebut di antaranya bambu yang berasal dari sekitar desa. Selain itu, rumah tersebut juga memiliki filosofis.

“Panjang 12 meter dalam satu tahun ada 12 bulan. Lebarnya tujuh meter dalam seminggu ada tujuh hari. Sementara itu jendela ada lima, sholat ada di lima waktu dan pintu satu memiliki arti asal dari Allah, pulang ke Allah,” jelas Abah.

Selain itu, ada tata krama tertentu untuk masuk ke dalam rumah tersebut. Seperti, masuk ke dalam rumah tersebut harus kaki kanan terlebih dahulu seperti masuk ke dalam masjid.

“Di sini juga ada hutan larangan dan ada hari tertentu untuk warga tidak boleh masuk ke dalam hutan tersebut, yaitu hari Selasa, Jumat dan Sabtu,” ujar Abah.

(Png – sisidunia.com)