Home » Gaya Hidup » Popcorn Brain Diakibatkan Dari Keseringan Main Gadget

Popcorn Brain Diakibatkan Dari Keseringan Main Gadget



Jakarta – Bermain gadget tak selamanya memiliki dampak negatif. Namun, bila penggunaannya terlalu sering, maka anak tetap saja bisa kena dampaknya. Dari sekian banyak dampak negatif ada istilah popcorn brain.

Popcorn Brain Diakibatkan Dari Keseringan Main Gadget

Ilustrasi

Istilah ini digunakan oleh peneliti David Levy, seorang profesor Sekolah Informasi di Universitas Washington. Dia menceritakan kisah tentang popcorn brain saat berpidato di perusahaan teknologi.

Baca juga : Bahan Alami Berikut Mampu Memperbesar Payudara

“Setelah makan siang, seorang karyawan dengan malu-malu memberi tahu malam sebelumnya si istri meminta dia memandikan anak perempuannya. Tapi dia menghabiskan waktu di telepon, mengirim SMS, dan mengirim e-mail. Padahal si pegawai nggak sedang bekerja, hanya saja dorongan untuk menggunakan telepon lebih tak tertahankan daripada memandikan anak,” tutur David Levy dikutip dari CNN.

David Levy menyebut popcorn brain adalah fenomena saat otak begitu terbiasa dengan stimulasi konstan multitasking elektronik. Terkait dengan popcorn brain, ibu dari tiga anak dan publik figur Mona Ratuliu juga membahasnya di buku keduanya yang berjudul ‘Digital ParenThink’.

“Harus kita akui, kalau gadget dan perangkat digital lainnya memang benda yang menyenangkan, terutama bagi anak-anak. Ada banyak aplikasi pada gadget yang menyajikan tayangan dengan warna-warni mencolok dan grafis menarik. Belum lagi game online kini bisa dinikmati di laptop maupun game console yang fiturnya makin canggih,” tulis Mona Ratuliu.

Saat menggunakan perangkat digital, anak terpapar stimulus yang kuat pada indra penglihatan dan pendengarannya melalui sinar serta warna yang mencolok di gadget. Nah, anak-anak akan terpapar sinar terus-menerus jika terlalu sering menggunakan gadget.

“Selagi stimulus tetap berlanjut, situasinya akan berganti dengan cepat. Sehingga setiap kali ada tampilan baru, anak makin nggak bisa mengalihkan perhatiannya. Karena anak terbiasa terpapar stimulus yang sangat kuat maka dia cenderung tidak bisa memberikan stimulus yang sama kuatnya saat ia bermain tanpa gadget,” kata Mona Ratuliu.

Nah, kondisi itulah yang disebut dengan popcorn brain. Istilah tersebut menggambarkan otak yang seakan meletup-letup karena terbiasa dengan layar gadget yang selalu merespons stimulus yang kuat. Pada kondisi tersebut, anak jadi nggak bisa merespons stimulus sehari-hari yang diberikan.

Biasanya anak yang sudah kena popcorn brain akan selalu mencari hal-hal yang semakin lam semakin brutal, impulsif, cepat dan menarik di mata mereka. Jadi, jangan heran kalau anak akan memberi respons datar saat diajak bermain ke tempat terbuka atau alam.

“Karena bagi mereka, bermain ayunan dan perosotan di taman, main petak umpat atau berlari-lari merupakan hal yang membosankan dan nggak menantang,” tambah Mona Ratuliu.

Masalah serius lain yang ditimbulkan oleh popcorn brain adalah lemahnya kemampuan anak untuk mengendalikan emosi. Apabila popcorn brain nggak mendapat stimulasi yang kuat, anak akan cepat jenuh dan kesal.

(Png – sisidunia.com)