Home » News » Pemerintah Sorot Penyakit Menular di Papua Barat

Pemerintah Sorot Penyakit Menular di Papua Barat



Jakarta – Papua Barat dikenal sebagai lokasi endemis malaria yang mengkhawatirkan. Tak sampai disitu, ada juga jenis penyakit menular lainnya yang jadi sorotan pemerintah.

Pemerintah Sorot Penyakit Menular di Papua Barat

Ilustrasi

Jika dilihat-lihat, kondisi sebaran penyakit di kawasan Indonesia Timur itu berbeda jauh dari kota besar yang lebih maju. Umumnya, penyakit tidak menular yang jadi sorotan pemerintahnya, sementara di Papua Barat malah banyak penyakit menular.

Baca juga : Terminal 3 Bandara Soetta Ada Permainan Tradisional

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat Otto Parorrongan, SKM, M.MKes mengatakan, pemerintah di ujung barat Pulau Papua itu kesulitan memberantas sebaran penyakit menular. Khususnya ialah malaria dengan angka kesakitan yang besar.

Ia pun coba membeberkan penyakit apa saja yang menjadi tugas pemerintah agar cepat diberantas. Berikut ulasannya, Selasa (28/8/2018).

Malaria

Bila melihat data Dinas Kesehatan Papua Barat tahun 2009, kasus malaria dari tahun ke tahun menurun sangat tajam. Sampai tahun 2017 pun tetap sama, tidak ada peningkatan yang drastis. Bahkan, Kabupaten Teluk Bintuni dapat penghargaan bebas malaria.

Namun, ada beberapa kabupaten yang belum bebas penyakit akibat gigitan nyamuk tersebut. Seperti Kabupaten Manokwari, Fakfak, dan Teluk Wondama, jadi tiga wilayah tertinggi dengan kasus malaria.

Pemerintah tentu khawatir dan melakukan percepatan eliminasi malaria dengan meniru Kabupaten Teluk Bintuni. Caranya yakni membuat tim bela kampung demi memberantas malaria. Masyarakat diberdayakan untuk membantu tenaga medis menjadi relawan untuk memberantas penyakit ini.

Tuberkulosis

“Penyakit tuberkulosis jadi masalah bagi kami di Papua barat. Penemuan penderita dari tahun ke tahun banyak kasusnya,” ujar Otto saat ditemui di Manokwari, Papua Barat, Senin 26 Agustus 2018.

Meski penderitanya berobat ke dokter, sayangnya banyak yang gagal. Bagaimana tidak, penderita penyakit gangguan pernapasan itu malas mematuhi pengobatan selama 6 bulan.

“Masalahnya saat penderita merasa sudah sehat, padahal pengobatan masih berlangsung mereka tidak patuh. Ini jadi PR yang kita genjot percepatan eliminasi,” imbuh dia.

HIV

Angka penderita HIV di Papua Barat juga lumayan besar. Tercatat kasusnya sebanyak 7.238 penderita, mulai 2009-2018. Padahal prevalensi di Tanah Papua untuk penularannya HIV di tahun 2006-2013 tergolong menurun. Karena banyak faktor, dampaknya bisa meningkatkan jumlah penderita penyakit dari penularan virus tersebut.

Kusta

Salah satu penyakit lain yang semakin memperbanyak tugas pemerintah dalam percepatan eliminasi ialah kusta. Jumlah penderita juga tinggi. Penyakit ini Dapat menyebabkan lesi kulit dan kerusakan saraf tersebut. Akibatnya, banyak penderita penyakit langka ini mengalami stigma dari orang lain.

Frambusia

“Penyakit kulit akibat kurang menjaga kebersihan ini masih banyak terjadi di kampung. Angka kejadiannya di tempat kami cukup tinggi,” kata Otto.

Sebagai langkah pencegahan, pemerintah memberikan obat khusus agar menurunkan jumlah penderita frambusia. Ini adalah tergolong penyakit langka pula yang mungkin Batu Anda dengan pertama kalinya.