Home » News » Terminal 3 Bandara Soetta Ada Permainan Tradisional

Terminal 3 Bandara Soetta Ada Permainan Tradisional



Tangerang – Masih ingat dengan permainan tradisional? Ya, congklak, gasing, bekel, catur jawa, enggrang atau bakiak. Ternyata, semua permainan itu dan 70 permainan tradisional lainnya dihadirkan di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta, Kota Tangerang.

Terminal 3 Bandara Soetta Ada Permainan Tradisional

Terminal 3 Bandara Soetta Ada Permainan Tradisional

Jika menuju ke Terminal 3, coba mampir sebentar ke area kedatangan internasional. Anda akan seperti menelusuri lorong waktu saat memasuki gerbang arena permainan tradisional itu.

Baca juga : Seorang Pria Diduga Tenggelam Usai Pamitan Salat Ashar

Dibawa ke masa kecil, di mana semua permainannya terbuat dari bambu, kayu atau tanah liat. Tidak ada pungutan biaya, semua pengunjung bandara boleh bermain sepuasnya, sembari menunggu panggilan pesawat.

Seperti yang dilakukan Maya Septi bersama empat temannya. Remaja yang akan berangkat ke Singapura ini, harusnya ikut penerbangan jam 15 WIB, namun karena masih ada waktu dan bosan menunggu, dia mampir ke stand yang dihadirkan Kementerian Pendidikan dan Budaya bekerja sama dengan PT Angkasa Pura (AP) II.

“Lihat arena ini, aku langsung tertuju pada congkak. Wah keren banget sih ini, sudah lama juga kan tidak main apalagi menemukan lagi permainan ini, langsung deh ajak teman buat nyoba main lagi,” tuturnya.

Lalu, dia juga mencoba permainan gasing asal Lombok. Permainan dari kayu itu, harus mendapat bantuan dari tali untuk bisa memutarnya. “Ini sih enggak bisa sejam doang, bisa asik sendiri berjam-jam. Sebagai generasi milenial yang gila gadget, aku pribadi butuh permainan tradisional seperti ini,” tutur Maya.

Sementara, menurut Direktur Pelayanan dan Fasilitas PT Angkasa Pura II, Ituk Herarindri mengatakan, di arena bermain ini, pihaknya bekerja sama dengan Kemendikbud menyediakan sekitar 75 permainan tradisional.

“Dari 2.500 permainan tradisional yang ada di Indonesia, kami bisa hadirkan 75 permainan. Pengunjung bandara silakan bernostagia bermain di sini,” tutur Ituk.

Selain memang sengaja mengajak siapa saja untuk bernostagia ke masa kecil, arena ini juga untuk mempromosikan jati diri Indonesia di mata dunia. Terlebih dalam ajang Asian Games ini, Ituk mengaku, ingin mengajak tamu-tamu Indonesia untuk bermain dalam permainan tradisional ini.

“Terutama saat para kontingen ini pulang nantinya, agar tidak bosan. Kami hadirkan berbagai permainan di sini,” katanya.

Benar saja, belum juga kontingen Asian Games datang, wisatawan asing yang tengah menunggu pesawat mereka take off, tampak antusias melihat cara bermainnya. Seperti bule asal Australia, Imelda Claif. Meski tidak ikut bermain, dia dan suami yang habis berlibur dari Bali itu, mengaku tertarik melihat permainan congklak yang dimainkan pengunjung lain.

“Tidak bisa mainnya, tapi seru juga lihatnya. Apa nama permainnya? Mungkin saya bisa beli dan ajarkan di Negara saya,” ujarnya dalam Bahasa Inggris.

Di kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid menjelaskan, maksud dari pameran ini untuk menanamkan rasa cinta kepada Indonesia.

“Di sini kita punya ruang bermain yang bisa digunakan pelanggan khususnya pengunjung yang bawa keluarga dan anak-anak. Garis besarnya kita ingin buat orang jatuh cinta kepada Indonesia dari permainan anak-anak,” jelas Hilmar.

(Png – sisidunia.com)