Home » News » Berikut Fakta Bola Api di Cilacap

Berikut Fakta Bola Api di Cilacap



Cilacap – Beberapa hari terakhir sejak hari raya Idul Adha 1439 Hijriah, warganet di Cilacap, Jawa Tengah, masih dibikin penasaran dengan penampakan bola api misterius di Mulayasari, Majenang.

Berikut Fakta Bola Api di Cilacap

Bola api di Cilacap

Video yang diunggah akun Wahyu Cruw di Facebook, misalnya, selama dua hari telah ditonton sebanyak 698 ribu pengguna. Video ini juga telah dibagikan lebih dari 12 ribu kali. Namun ternyata teka-teki bola api misterius ini belum terjawab.

Baca juga : Terjadi Kebakaran di Pemukiman Padat Pademangan

Spekulasi yang berkembang adalah trafo jaringan PLN yang terbakar. Spekulasi ini terbantahkan karena di sekitar lokasi kejadian yakni di Dusun Cempaka Desa Mulyasari, tak terdapat jaringan PLN di belakang rumah penduduk.

Bola api misterius itu pun, oleh saksi di lokasi disebut hinggap di pohon kelapa setelah terbang pelan dari arah timur. Anehnya, saat padam, tak ditemukan bekas-bekas kebakaran di sekitar lokasi.

Ada dugaan logis, ada pula dugaan mistis. Ada yang menyebutnya sebagai Banaspati, alias hantu api. Tak kalah ngeri, bahkan ada yang menyebutnya sebagai kiriman santet.

Ada pula yang menduga bola api misterius itu sebagai Unidentified Flying Object alias UFO, pesawat milik makhluk luar angkasa, Alien. Namun, dari semua spekulasi itu, tak ada satu pun yang memiliki bukti nyata.

“Kalau meteor jatuh atau apa kan ada bekasnya lah, kebakaran. Ini tidak ada bekasnya,” kata Kepala Desa Mulyasari, Tohari, saat dihubungi Liputan6.com, Kamis malam, 23 Agustus 2018, atau sehari setelah kejadian.

Teka-teki bola api misterius ini akhirnya mengundang sejumlah pemuda Mulyasari untuk menyelidiki. Para pemuda yang tinggal di Dusun Cempaka RT 02/RW 06, mencoba menjawab rasa penasaran mereka. Tentu berdasar ceceran fakta dan bukti di sekitar lokasi.

Pertama kali yang dilakukan adalah mencari di titik bola api terhenti. Pohon kelapa. Di lokasi yang dihebohkan itu tak tampak tanda apa pun. Pohon dan daun kelapa pun mulus tanpa bekas terbakar.

Tiba-tiba ada sejumlah benda mencurigakan yang tersangkut di pelepah kelapa. Perlahan misteri bola api terbang mulai terkuak. Benda-benda ini terlihat kecil dan menggantung di ketinggian.

Benda ini lalu diturunkan. Mereka masih bingung mendefinisikan penampakan benda yang baru pertama kali mereka lihat ini. Ada tiga benda yang ditemukan. Mereka menduga ini merupakan sebuah rangkaian dari satu benda saja. Ada pipa semacam selongsong, ada pula benang yang mengaitkan selongsong dengan semacam parasut mini.

Ditemukan pula serpihan selongsong, seperti benda bekas terbakar. Dugaannya, benda ini yang menciptakan bola api yang menghebohkan masyarakat.

Seorang warga RT 02/06 Dusun Cempaka Desa Mulyasari, Sugeng Dzuriyanto, yang kebetulan bekas pelaut menerangkan bahwa benda tersebut adalah suar atau parasut sinyal penunjuk lokasi. Biasanya, suar itu diluncurkan jika terjadi bahaya atau keadaan genting lain. Parasut sinyal ini digunakan untuk menunjukkan lokasi sebuah kapal laut.

Saat dinyalakan, suar akan meluncur dengan ketinggian sekitar 300 meter. Nyala suar berwarna jingga, persis seperti penampakan bola api misterius yang dilihat warga.

Usai mencapai ketinggian maksimal, suar akan jatuh. Saat jatuh itulah, parasut mengembang. Lantaran ada parasutnya, suar turun perlahan-lahan dan masih menyala terang.

“Dari kronologinya, saya yakin ini suar signal yang diluncurkan oleh seseorang,” ujar Sugeng yang juga alumnus Balai Pendidikan dan Latihan Pelayaran (BPLP) Semarang ini, Jumat sore, 24 Agustus 2018.

Menurutnya hembusan angin bisa membuat suar melayang jauh dari titik diluncurkan. Perkiraannya, bisa mencapai ratusan meter hingga kilometer dari titik luncur, tergantung kekuatan angin. Jarak waktu antara peluncuran dengan jatuhnya suar pun bervariasi, bisa lima menit, tetapi bisa juga mencapai 10 menit.

Sugeng yakin suar ini bukan diluncurkan oleh kapal laut, karena jarak antara Majenang dengan pesisir pantai sekitar 100-an kilometer. Tak mungkin sebuah suar yang hanya mencapai ketinggian 300 meter bisa mencapai kampungnya.

“Dugaan saya, ini suar dibawa pulang oleh orang kerja di kapal. Kemudian buat main-main, diluncurkan,” katanya menjelaskan.

Sugeng mengemukakan, dalam bentuk aslinya, suar sinyal berbentuk silinder berukuran sedang. Penggunaanya cukup mudah hanya cukup ditarik tuas pemantiknya, suar pun akan meluncur.

“Parasut sinyal selalu menjadi perlengkapan kapal laut yang berlayar,” dia menambahkan.

(Png – sisidunia.com)