Home » Gaya Hidup » Pola Komunikasi Anak Bisa Bergeser Akibat Kecanduan Gadget

Pola Komunikasi Anak Bisa Bergeser Akibat Kecanduan Gadget



Jakarta – Saat ini, penggunaan gadget pada anak-anak dinilai sangat memprihatinkan. Bahkan, banyak anak-anak yang kecanduan gadget.

Pola Komunikasi Anak Bisa Bergeser Akibat Kecanduan Gadget

Ilustrasi

Kondisi tersebut menjadi perhatian banyak kalangan, salah satunya datang dari Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia (UI).

Baca juga : Jangan Sering Makan Makanan Pedas, Berikut Dampaknya

Mereka melakukan kampanye sosial bertajuk Mencegah Kecanduan Gadget pada Anak Sejak Dini pada komunitas perempuan, yang dilakukan di kantor Kelurahan Kukusan, Depok, pekan lalu.

Kegiatan ini merupakan pengabdian masyarakat (pengmas) yang merupakan bagian Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Henny S Widyaningsih, Ketua Tim Pengmas Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI, menjelaskan topik kampanye sosial ini sengaja dipilih karena ada keprihatinan melihat kondisi masa kini, yaitu teknologi komunikasi melalui gadget bagaikan pisau bermata dua; di satu sisi sangat bermanfaat, tapi di sisi lain juga memiliki dampak negatif, terutama pada anak-anak usia dini.

Pola Komunikasi pun saat ini sudah bergeser dari yang selalu dialogis tatap muka menjadi lebih individual, kata Henny kepada Merdeka, kemarin.

Perempuan, khususnya perempuan yang memiliki anak, menjadi target kegiatan ini lantaran agar mereka mampu berdaya mengawasi, menganjurkan, dan mendidik anak-anaknya sehingga mau melakukan kegiatan fisik, serta tidak melulu tergantung pada gadget.

Tak hanya bekerja sama dengan Kelurahan Kukusan yang merupakan desa binaan UI, penyelenggara juga bekerja sama dengan Rumah Baca Hanifah Depok.

Henny juga mengatakan tujuan kegiatan ini berawal dari pertimbangan makin banyak anak yang menghabiskan waktu bermain gadget ketimbang melakukan kegiatan yang melibatkan permainan kontak fisik dengan kawan sebaya.

Maka itu, acara dibagi dua ke khalayak sasaran, yaitu ibu-ibu dan anak-anak. Sementara para ibu diberikan talkshow dengan dua materi, yakni Gadget dan Dampaknya bagi Anak dan Upaya Pencegahan akibat Kecanduan Gadget pada Anak.

Sementara, anak-anak yang berusia 5-10 tahun dikenalkan dan diajak bermain permainan tradisional dan lomba (susun puzzle dan mewarnai).

“Ibu-ibu harus waspada ketika anak menolak melakukan rutinitas sehari-hari dan lebih memilih gadget. Ini menjadi salah satu tanda kecanduan atau adiktif,” ujar Wahyuni Pudjiastuti, Dosen Departemen Ilmu Komunikasi UI yang menjadi penanggung jawab talkshow.

Satu tanda kecanduan gadget, lanjut dia, adalah penggunaan gadget secara terus-menerus dan menurunnya keinginan untuk bermain dengan anak lain.

Maka, kegiatan ini pun menghadirkan permainan tradisional yang melibatkan anak lain, sehingga mereka mempunyai pengalaman atau diingatkan lagi dengan pengalaman melakukan kegiatan fisik dengan teman sebaya.

Meily Badriati, penanggung jawab bagian permainan anak kegiatan tersebut, mencoba menularkan pengalaman bermain dengan rekan sebaya, sehingga permainan tradisonal menjadi pilihan, seperti dakon atau congklak, ular tangga, dan galasin.

“Anak-anak diharapkan bisa merasakan pengalaman sensori dan motorik dari kegiatan ini sehingga mereka bisa merasakan sensasi asyiknya. Diharapkan mereka bisa mengulang asyiknya pengalaman ini pada waktu yang lain,” pungkas Melly.

(Png – sisidunia.com)