Home » News » ISIS Culik Ribuan Wanita Yazidi Untuk Dijadikan Budak Seks

ISIS Culik Ribuan Wanita Yazidi Untuk Dijadikan Budak Seks



Jakarta – Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) terkenal dengan kekejamnya. Salah satunya menculik ribuan wanita Yazidi kemudian menjadikannya petarung dan budak seks yang diperkosa puluhan kali sehari.

ISIS Culik Ribuan Wanita Yazidi Untuk Dijadikan Budak Seks

Gambar Ilustrasi

Dilansir dari Reuters dan media lokal Kurdi, NRT, Sabtu (4/8/2018), hingga saat ini dilaporkan ada 3.146 warga Yazidi masih dalam penyekapan ISIS. Jumlah itu terdiri atas 1.465 wanita dan 1.685 pria. NRT mengutip pernyataan pejabat Pemerintah Kawasan Kurdistan dalam laporannya.

Baca juga : Tawuran Suporter Bola Dengan Warga Menewaskan 1 Orang

Pemerintah Kawasan Kurdistan yang menguasai kawasan Sinjar juga melaporkan hingga akhir Mei lalu, sedikitnya 3.275 warga Yazidi terdiri atas 2.083 wanita dan anak perempuan dan 1.292 pria, berhasil diselamatkan dari ISIS. Misi penyelamatan disebut sulit dilakukan karena tidak mendapat bantuan pemerintah Irak.

Tak hanya itu, menurut Koordinator Advokasi Internasional pada Pemerintah Kawasan Kurdistan, Dindar Zebrai, pihaknya mencatat sekitar 3.548 wanita Yazidi, dari 6.417 warga Yazidi yang diculik, telah dijadikan budak seks atau menjadi korban pemerkosaan dan pemukulan oleh ISIS.

Etnis Yazidi merupakan etnis minoritas kuno di Irak bagian utara yang kerap menjadi korban persekusi. Berdasar pada catatan The Independent, Yazidi setidaknya sudah melewati 72 kali percobaan genosida sepanjang keberadaannya di Irak.

Ada sekitar 400 ribu etnis minoritas Yazidi yang bermukim di Gunung Sinjar. Etnis Yazidi ini dijuluki ‘penyembah iblis dan musyrik oleh ISIS karena agama mereka menggabungkan aspek Islam, Kristen dan Yudaisme di antara agama-agama lain.

Empat tahun lalu, tepatnya 3 Agustus 2014, ISIS membantai banyak warga Yazidi. Ada ribuan orang yang mengungsi ke puncak Gunung Sinjar, namun ada yang gagal mengungsi dan menjadi korban pembunuhan atau diculik oleh ISIS.

Menurut laporan jurnal Public Library of Science (PLos) tahun 2017, seperti dikutip Reuters, ada sekitar 3.100 warga Yazidi yang dibunuh, separuh di antaranya ditembak mati, dipenggal atau dibakar hidup-hidup. Sementara, ada 6.800 warga Yazidi lainnya yang diculik untuk dijadikan budak seks atau petempur ISIS.

Para wanita Yazidi yang berhasil selamat dari ISIS usai menjadi budak seks banyak bercerita soal kisah mereka, salah satunya Berivan Halo. Dia menjadi budak seks ISIS selama 25 bulan. Menurut pengakuannya, dia diculik pada 2014 saat masih berusia 24 tahun dan dalam kondisi hamil. Berivan berhasil kabur setelah sempat menjadi budak seks dan mengalami pemukulan serta perkosaan berulang kali oleh ISIS.

“Seorang gadis mungkin diperkosa 10 kali sehari oleh laki-laki yang berbeda, saya sudah melalui semua itu, tidak ada yang tidak mereka lakukan pada kami,” katanya seperti dilansir ABC Australia Plus.

Sejak Mei lalu, Berivan tinggal di New South Wales, Australia setelah terbebas dari ISIS. Meskipun bebas dari siksaan ISIS, dia mengaku khawatir atas mereka yang masih hilang, terutama para wanita Yazidi.

Cerita pahit juga dibagikan wanita lainnya yang pernah dijadikan ISIS sebagai budak seks, Nadia (bukan nama asli). Dia kini tinggal di Kanada dan sempat ikut kegiatan di alun-alun Yonge-Dundas pada 3 Agustus kemarin untuk memperingati serbuan ISIS ke etnis Yazidi. Saat itulah dia bercerita tentang kisah pahitnya di atas panggung.

Dilansir dari media Kanada, The Post Millenial, Nadia menceritakan pengalaman pahit menjadi budak ISIS selama 2,5 tahun serta tentang keluarganya yang masih disekap ISIS sambil menahan tangis. Dia pun meminta bantuan pemerintah Kanada dan dunia internasional untuk menyelamatkan keluarganya. Usai bercerita tentang kisah kelamnya, Nadia pingsan.

Secara terpisah, Debbie Rose selaku Direktur Eksekutif MozuudRSVP yang membantu pengungsi Yazidi di Kanada, menyebut kebanyakan dari mereka mengalami trauma parah hingga mental Posttraumatic stress disorder (PTSD). Meski beberapa dari mereka telah hidup tenang di Kanada, namun sehari-hari kehidupan mereka masih dibayangi militan ISIS yang pernah menyekap mereka.

(Png – sisidunia.com)