Home » Gaya Hidup » Penelitian, Tak Semua Teman Menyukai Anda

Penelitian, Tak Semua Teman Menyukai Anda



Jakarta – Manusia adalah makhluk sosial pasti membutuhkan kehadiran teman untuk bisa menjalani hidup dengan baik. Namun, pernahkah kamu berpikir bahwa orang-orang yang kamu anggap sebagai teman, ternyata belum tentu menganggapmu sebaliknya.

Penelitian, Tak Semua Teman Menyukai Anda

Ilustrasi

Seperti yang diungkapkan oleh sebuah penelitian ini. Hasilnya menyatakan bahwa hanya ada setengah dari orang-orang yang kamu anggap sebagai teman yang benar-benar menganggapmu sebagai temannya.

Baca juga : Penelitian, Segudang Manfaat Dari Mengingat Mimpi

Sebuah penelitian di tahun 2016 menemukan bahwa kemungkinan hanya ada 50 persen dari persahabatan yang bisa dibilang saling menguntungkan. Tentu saja ini merupakan sebuah masalah. Kita ketahui bersama bahwa saat kita menyatakan seseorang sebagai teman, maka kita secara otomatis menganggap mereka memiliki perasaan yang sama bukan?

Penelitian ini dipimpin oleh seoranng peneliti dari MIT, dilansir ScienceAlert pada Jumat (4/5/2018). Pada penelitian tersebut dilakukan analisis terhadap hubungan persahabatan pada 84 subjek dengan usia rata-rata 23 hingga 38 tahun. Mereka ini merupakan mahasiswa-mahasiswa yang mengambil kelas manajemen bisnis.

Mereka diminta untuk memberikan peringkat tentang seberapa dekat mereka dengan teman-temannya di kelas dalam skala 0 sampai dengan 5. Angka tersebut menggambarkan mulai “Aku tidak mengenal orang ini” sampai dengan “Dia adalah salah satu sahabatku.”.

Meski berada dalam skala kecil, hasil penelitian ini cukup mencengangkan. Sebanyak 94 persen subjek penelitian mengharapkan perasaannya bertimbal balik. Sayangnya, hanya 53 persen dari keseluruhan data penelitian yang menunjukkan bahwa kedua subjek saling menganggap teman.

Kesenjangan presepsi dalam hubungan pertemanan ini menunjukkan beberapa masalah signifikan. Masalah-masalah tersebut mulai dari ketidakmampuan kita untuk mendefinisikan secara jelas arti persahabatan sampai dengan dampaknya yang dapat menyerang citra diri kita sendiri. Bagi kita, kesalahan mendefinisikan sifat orang bisa saja berdampak dan memengaruhi perubahan sosial.

Sementara itu, salah satu tim penelitian, Alex Pentland, menunjukkan bahwa ketidakmampuan membaca kepribadian orang ini dikarenakan kita hanya ingin mempertahankan citra diri. Pandangan akan persahabatan biasanya akan seperti ini, “Kami menyukai mereka, maka mereka harusnya menyukai kami.” Ini merupakan masalah yang komplek. Banyak orang akan memberikan jeda panjang bahkan gagal menjawab ketika ditanya mengenai arti persahabatan.

Saat kecil, arti persahabatan mungkin sangat sederhana. Jawaban-jawaban seperti, “Teman adalah seseorang yang akan rela melakukan apapun untukmu,” atau juga “Teman adalah seseorang yang meminjamimu barang-barang bagus,” dan yang terpenting adalah “Teman tidak berbohong”.

Namun, semuanya berubah saat kita beranjak remaja hingga dewasa. Segala sesuatunya tak menjadi semudah itu. Apalagi serangan media sosial yang membuat hubungan pertemanan sebagai komoditas, yang merupakan kebalikan dari bagaimana kamu seharusnya berpikir tentang hubungan pertemanan.

Kendati demikian, jangan khawatir jika tidak mempunyai banyak teman. Jika kamu berhasil mendapatkan paling tidak 5 teman sesungguhnya yang mencintaimu kembali dari separuh orang yang menyukaimu itu, maka kamu merupakan orang yang beruntung.

(Png – sisidunia.com)