Home » News » Pengungsi Rohingya Mendapat Ancaman Dari Kawanan Gajah

Pengungsi Rohingya Mendapat Ancaman Dari Kawanan Gajah



Jakarta – Pengungsi Rohingya mendapat ancaman baru selain kondisi penampungan sementara yang jauh dari layak di Kutupalong, Bangladesh, yakni kawanan gajah. Pasalnya, kamp pengungsi di Kutupalong-Balukhali tersebut berada dekat dengan hutan.

Pengungsi Rohingya Mendapat Ancaman Dari Kawanan Gajah

Kamp Penampungan Rohingya

“Kami berpikir seseorang datang untuk mengambil persediaan makanan pada malam hari jadi kami buru-buru keluar dan saat itu kami melihat seekor gajah. Hewan itu lalu mengejar kami,” ujar seorang pengungsi bernama Mustaba Khatun, melansir dari Asian Correspondent, Senin (9/4/2018).

Baca juga : Kios Warga Porak-Poranda Akibat 2 Perguruan Bentrok

Ia menambahkan, peristiwa yang terjadi pada September 2017 itu menewaskan dua orang, satu anak kecil dan satu dewasa. Setelah peristiwa itu warga etnis Rohingya hidup dalam ketakutan. Akan tetapi, warga kemudian berinisiatif untuk melakukan tindakan pengamanan.

Para pengungsi itu lantas membentuk semacam pasukan ronda. Mereka diberi tugas untuk mengawasi bukit-bukit yang berada di dekat kamp serta membangunkan warga agar mengusir gajah yang berkeliaran.

Serikat Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) kini bekerja sama dengan Badan Pengungsi PBB, UNHCR, untuk memberikan pelatihan resmi bagi pasukan ronda tersebut. Koordinator IUCN setempat, Mohammed Abdul Motaleb mengatakan, pelatihan berguna untuk memahami seluk-beluk gajah.

“Warga biasanya melempar batu dan petasan yang sangat buruk bagi gajah. Hewan itu menyerang orang-orang karena tidak suka kekacauan itu,” urai Mohammed Abdul Motaleb.

“Gajah mirip dengan manusia, mereka selalu menginginkan tempat yang hening, karena itu mereka datang di waktu malam. Mereka sudah mengubah rute di mana manusia tidak ada sehingga bisa bergerak bebas. Masalahnya, kamp tersebut berdiri di koridor pergerakan gajah,” imbuhnya.

Tim gabungan itu melatih warga dengan beberapa materi standar seperti pengenalan akan sejarah serta karakter gajah di kawasan Asia Selatan. Materi itu diberikan agar warga mampu menaruh rasa hormat kepada seekor gajah.

Juru bicara UNHCR, Caroline Gluck mengatakan, kehadiran gajah-gajah itu membuktikan bahwa kamp pengungsi Rohingya tidak ramah terhadap lingkungan serta berada di bawah standar internasional. Ia juga menyebut jumlah pengungsi yang berada di sana jauh melebihi daya tampung maksimal.

Gajah-gajah tersebut diperkirakan kehilangan tempat mencari makan karena hutan seluas 20 kilometer persegi dibabat habis untuk pembangunan kamp pengungsi Rohingya. Gluck menuturkan, pihaknya siap menjalankan program pembangunan di kamp tersebut guna mencegah meruncingnya konflik antara gajah dengan pengungsi Rohingya.

(Png – sisidunia.com)