Home » News » Presiden Rusai Sempat Ingin Jadi Sopir Taksi

Presiden Rusai Sempat Ingin Jadi Sopir Taksi



Moskkow – Presiden Rusia Vladimir Putin membuat sebuah pernyataan yang mengejutkan. Pria berusia 64 tahun itu mengaku sempat menolak pekerjaan sebagai pegawai pemerintahan di kampung halamannya, Saint Petersburg. Ia mengaku saat itu sempat mempertimbangkan untuk menjadi seorang sopir taksi.

Presiden Rusai Sempat Ingin Jadi Sopir Taksi

Vladimir Putin

Pertimbangan itu diambil setelah rekan dekat sekaligus atasannya, Anatoly Sobchak, kalah pada pemilihan daerah 1996. Vladimir saat itu adalah tangan kanan sang wali kota dan sempat dijuluki ‘Gubernur Putin’. Kekalahan Sobchak saat itu adalah karena sifat sang petahana sendiri yang terlalu jujur.

Baca juga :  BNN Sita Sabu Seberat 50 Kg Dari 2 Orang di Ancol

“Kampanye yang sangat intensif dan kotor diluncurkan terhadapnya. Kampanye yang isinya fitnah,” ujar Vladimir Putin dalam sebuah wawancara, mengutip dari Russia Today, Jumat (16/3/2018).

Menurut rekannya, Igor Sechin, Putin sempat ditawari pekerjaan sebagai pegawai negeri di pemerintahan daerah Saint Petersburg yang baru. Namun, mantan agen KGB itu memilih untuk tetap loyal kepada bosnya, Anatoly Sobchak.

“Saya lebih baik ditembak oleh regu penembak daripada digantung karena berkhianat,” kata Sechin seraya meniru ucapan Putin padanya kala itu.

Keputusan pria berjuluk Grey Cardinal itu jelas menghancurkan prospek kariernya. Untungnya, Putin saat itu menerima undangan untuk pindah ke Moskow dan bekerja di lingkaran Kepresidenan Rusia.

“Saya tidak punya banyak pilihan. Apa lagi yang bisa saya lakukan? Saya tidak bisa ke mana-mana untuk mendapatkan pekerjaan. Saya pernah mempertimbangkan diri untuk menjadi sopir taksi paruh waktu atau semacam itu, dan saya tidak bercanda. Apa lagi pilihan saya waktu itu? Saya punya dua orang anak,” urai Vladimir Putin.

Ia mengaku sangat bersyukur kepada Pavel Borodin, Kepala Staf Kepresidenan untuk Presiden Boris Yeltsin, yang menawarinya pekerjaan. Meski demikian, Putin mengaku tidak bahagia karena harus meninggalkan kampung halamannya, Saint Petersburg.

(Png – sisidunia.com)