Home » News » Gedung Pencakar Langit Makin Benamkan Perkampungan di Jakarta

Gedung Pencakar Langit Makin Benamkan Perkampungan di Jakarta



Jakarta – Lantaran banyaknya pembangunan gedung-gedung pencakar langit, lahan perkampungan di Jakarta semakin tergerus. Sehingga banyak warga asli yang terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya dan pindah ke daerah lain di pinggiran ibu kota.

Gedung Pencakar Langit Makin Benamkan Perkampungan di Jakarta

Gedung pencakar langit di Jakarta

Salah satunya kampung Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, yang kini keberadaannya terhimpit gedung-gedung perkantoran. Letaknya pun berada di belakang tiga tower suatu perusahaan yang memiliki lantai lebih dari 20 lantai itu.

Baca juga : Foto, Kali di Depok Ini Dipenuhi Sampah Rumah Tangga

Bahkan, di jalan-jalan terdekat banyak lahan dibangun menjadi hotel dan restoran mewah yang menyasar masyarakat menengah ke atas. Kehidupan itu berbeda dengan warga yang tinggal di gang-gang yang sehari-hari bermatapencaharian sebagai penjual makanan.

Salah satu warga penjual gorengan, Omah, 62, telah tinggal di kawasan tersebut sejak 35 tahun yang lalu. Dirinya bersama keluarga adalah keturunan Betawi bercampur Tionghoa. Ternyata, warga setempat juga merupakan penduduk asli yang tinggal berpuluh-puluh tahun lamanya.

“Tahun 1983 pindah ke sini ikut orang tua. Terus sekarang jualan gorengan saja setiap hari, yang beli orang-orang kantor,” ujarnya saat ditemui JawaPos.com, di rumah yang menjadi tempat berjualan, Senin (6/3/2018).

Dahulu, Omah dan warga sekitar mengandalkan hidup dengan berkebun. Dia menceritakan, kawasan rumahnya rindang karena banyak pepohonan beringin yang besar-besar. Namun itu tak terlihat lagi, sebab saat ini sekeliling sejauh mata memandang hanya gedung-gedung tinggi yang terlihat.

“Sekarang ya gini, panas, dulu adem banget pohon gede-gede. Kita juga punya anak main nggak khawatir karena kelihatan. Sekarang kan banyak bangunan,” kata Omah.

Kampung Kebon Sirih juga terlihat kumuh lantaran saluran air yang tidak terurus. Bahkan, kawasan itu juga pernah mengalami krisis air bersih. Mengenaskan, padahal letaknya ada di tengah-tengah hiruk-pikuk kemewahan ibu kota.

“Iya pernah (krisis air). Ini got memang sudah keruh, hitam warnanya. Bau, nggak enak,” tutur Pardi, 57, warga Gang Kebon Sirih lainnya.

Kampung yang juga sangat dekat dengan gedung pemerintahan DKI Jakarta itu semakin sempit. Beberapa rumah terlihat sudah dibongkar dan ditinggal penghuninya. Banyak rumah tua yang tak terawat, hingga runtuh dengan sendirinya.

“Banyak yang runtuh, termakan usia. Reot. Kadang pagarnya rusak, lama-lama ya udah kena air hujan karatan,” jelasnya lagi.

Saking sempitnya gang tersebut, hanya tersisa jalan setapak untuk dilewati satu sepeda motor. Jika dipaksakan untuk dua motor, salah satunya harus mengalah mundur atau merapat ke tembok rumah. Sementara bagi warga yang memiliki mobil, biasanya dititipkan ke pinggir jalan trotoar luar gang.

Selain gedung perkantoran, di wilayah Jakarta Barat, perkampungan sudah tergerus dengan mal dan apartemen. Salah satu perkampungan yang sudah tak terlihat dan tertutup gedung pencakar langit adalah kawasan Jakarta Barat tepatnya di Jalan Tanjung Duren Timur, RT 08/06. Kampung ini berada di belakang Apartmen Taman Anggrek, Mal Centrak Park, dan Apartemen Mediterania.

Berdasarkan pantuan, melalui Jalan Letjen S Parman, kawasan Tanjung Duren sudah tidak terlihat sama sekali perkampungan itu. Gedung-gedung pencakar langit dengan kokohnya menutupi perkampungan. Bahkan rumah-rumah yang tepat berada di belakang apartemen terlihat seperti bangunan miniatur di antara gedung-gedung itu.

Sedangkan jika dilihat melalui Jalan Tanjung Duren Timur, kampung itu seperti kota terasingkan karena dipepet oleh apartemen dan pusat perbelanjaan mal. Tak ada lagi pemandangan yang asri, hanya terlihat gedung-gedung tinggi dengan desain modernnya.

Ketua RT 08, Budiman, 49, menerangkan dulunya kawasan mal dan apartemen tersebut adalah pemukiman warga sekitar. Sebanyak 600 kepala keluarga (KK) tinggal di sana. Namun, setelah pembangunan itu dilakukan, hanya tersisa 100 KK yang masih bertahan.

“Dulu di RT sini kurang lebih ada 600 KK, kemudian berhubungan ada pihak developer mau mendirikan bangunan central park, kisaran 500 KK yang sudah pada hijrah, tinggal kisaran di bawah 100 kita,” ujar pria paruh baya itu saat ditemui JawaPos.com di Jalan Tanjung Duren Timur, Jakarta Barat, Selasa (6/3).

Pria warga asli Betawi ini mengatakan mal dan apartemen itu sudah dibangun sejak 7 tahun lalu. Semenjak itu pula perkampungannya menjadi menyusut. Warga yang tahannya telah disulap menjadi bangunan raksasa telah mencari tempat tinggal di kawasan lain, hanya dirinya yang masih bertahan di kampung tersebut.

“Sekarang sudah banyak pendatang, asli sini sudah banyak yang hijrah karena itu tadi sudah jadi apartemen. Saya asli warga Betawi lahir di sini, alhamdulillah saya tetap bertahan,” ungkapnya.

Bahkan, di kawasan tersebut, rumah Budiman adalah satu-satunya rumah tertua yang tak pernah direnovasi seperti rumah lainnya. Namun kini, rumah tertua itu telah ditempel oleh tembok raksasa apartemen.

“Jadi daerah sini rumah saya paling tua yang lain semua sudah renovasi, di sini belum pernah sama sekali dari tahun 50-an lah,” tuturnya.

Sementara, ibu dari Budiman, Buniana, mengaku telah tinggal di kampung ini sejak dirinya masih lajang hingga sekarang bersama anak dan cucunya. Bahkan, wanita tua ini tak begitu mengingat tepat tanggal lahirnya. Dia mengatakan, rumah yang dibangun tahun 50-an itu mempunyai banyak kenangan bersama almarhum suaminya.

“Zaman dulu masih pakai bambu pohon kelapa buat rumahnya. Kenangannya banyak, apalagi bapak sudah enggak ada,” kata wanita renta itu.

Dengan rambut yang mulai memutih, Buniana mengatakan, sang suami dulunya adalah ketua RT 08 selama 32 tahun lamanya. Bahkan, suaminya menamakan Jalan Tanjung Duren Timur itu dengan nama Mandalika 5 yang sampai sekarang kawasan itu dikenal sebutan Mandalika 5.

Hal serupa terlihat di sekitaran Semanggi. kampung Bendungan Udik (Bendik), di Kelurahan Karet Semanggi, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, dahulunya berisikan warga Betawi dan orang keturunan Tionghoa.

Kini telah berubah menjadi tempat berdirinya apartemen dan gedung bertingkat lainnya. Akibatnya daerah ini hampir tidak diketahui oleh banyak orang. Letak kampung ini sendiri berada di sekitar belakang kampus Atma Jaya dan Apartemen Aryaduta.

Ibu Umi yang telah tinggal di kawasan itu sejak tahun 1994 mengungkapkan bahwa Kampung Bendik sangat padat dan banyak penduduk asli Betawi.

“Saya tidak tahu secara rinci. Tapi yang jelas kampung itu warga asli Betawinya banyak. Banyak kontrakan, banyak warga yang kerja serabutan, banyak juga warga yang kerja kantoran dahulunya. Sekarang semuanya sudah tidak ada lagi,” katanya saat ditemui, di Jalan Karet Sawah, Jakarta Selatan, Senin (5/3/2018).

Sementara itu, Ketua RT 02/04, Siti, 63, yang telah tinggal di Kampung Bendungan Udik sejak tahun 1977, membenarkan dahulu kampung itu memang ada. Namun saat ini kampung itu hampir tidak ada warganya.

“Dulu itu masih becek, warganya kumuh, kerja serabutan. Tapi banyak juga yang punya kontrakan dan dagang. Karena mayoritas orang Betawi,” kata Siti di rumahnya.

Selain banyaknya warga Betawi yang tergusur, kampung itu juga kehilangan produksi batiknya. Dahulu Kampung Bendik sendiri banyak yang memproduksi batik cap untuk diproduksi dan dijual.

“Tapi yang punya orang Tionghoa. Mereka bikin batik yang begini (batik cap), tapi sekarang udah nggak ada. Sekarang warga asli Betawi juga sudah nggak ada, di Bendungan Udik ya segini aja warganya. Kalau di KK sih banyak, tapi aslinya dikit karena memang orang ngontrak saja, bukan warga asli,” lanjut Siti sambil mempraktikkan mengecap kain batik.

Selain itu ada juga masjid yang telah lama berdiri, namun harus dipindahkan semenjak pembangunan tahun 1980-an.

“Nama masjidnya Baitul Mukhlisin, dulu ada belakang Plaza Semanggi. Karena ada pembangunan akhirnya dibagi dua. Ada yang di dekat sana (Plaza Semanggi), dan yang satunya di samping rumah saya,” lanjut ibu Siti.

Hingga kini menurut pantauan JawaPos.com, kawasan Bendungan Udik telah terhimpit Kali Krukut di depan dan sebuah apartemen Pearl Garden di belakangnya. Bahkan jarak antara Masjid Baitul Mukhklisin dengan badan jalan tidak ada batas, langsung ke jalan yang digunakan untuk lalu-lalang pejalan kaki dan motor. Sebab lebar jalan hanya sekitar satu sampai satu setengah meter saja yang hanya bisa dilalui satu motor.

Selebihnya adalah rumah-rumah semi permanen dan ada sebidang tanah di depan masjid sekitar lima sampai delapan meter yang digunakan untuk parkir. Selain itu rumah-rumah yang dibangun juga hanya tersisa puluhan rumah saja. Itupun mereka ngontrak, bukan rumah milik sendiri.

Saat itu ada seorang perempuan yang memasak untuk dagangannya di depan masjid. Dia memasak di sebuah bangunan yang hanya dibangun menggunakan triplek. Bahkan tanpa harus melihat dari dekat dapat terlihat apa yang dia masak karena saking sempitnya jalan itu.

Kampung Bendungan Udik kini juga hanya tersisa di sepanjang Kali Krukut saja. Di mulai dari Jalan Karet Sawah Besar Dua sampai di pertigaan Jalan Komp Polri. Hal tersebut juga tidak mengherankan pasalnya hanya tersisa puluhan warga saja yang tinggal. Mereka pun juga terancam direlokasi oleh pengembang.

“Warga Kampung Bendungan Udik sendiri ada sekitar 15 sampai 20 KK saja. Dari pemerintah tidak ada untuk merelokasi mereka. Namun kemungkinan akan dibebaskan oleh pihak pengembang,” kata Camat Setiabudi Dyan Airlangga.

(Png – sisidunia.com)