Home » News » Penjelasan BPOM Terkait Maraknya Obat Yang Mengandung Babi

Penjelasan BPOM Terkait Maraknya Obat Yang Mengandung Babi



Jakarta – Diduga mengandung DNA Babi, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengklaim telah menemukan 13 produk makanan dan obat ilegal.

Penjelasan BPOM Terkait Maraknya Obat Yang Mengandung Babi

Ilustrasi

Menurut Ketua Yayasan Produk Halal Indonesia (YPHI), Muhammad Yanis Musdja, penyebab maraknya hal ini lantaran Undang-Undang tentang Jaminan Produk Halal tidak berjalan.

Baca juga : Diduga Terkam Warga, Buaya Raksasa Ini Ditembak Mati Polisi

“Sebenarnya lebih banyak dari itu (produk yang berDNA Babi) saya punya datanya. Tapi saya belum mau mengungkap,” terang Yanis saat dihubungi, Kamis (1/3/2018).

Menurutnya, UU ini harus diterapkan agar jaminan kesehatan masyarakat terjamin. Seharusnya, kata dia, UU berjalan di tahun 2017, tetapi sampai saat ini belum ada impelementasinya. Yanis melihat pemerintah lamban dalam membentuk peraturan ini.

“Jelas sekali ada industri yang saat izin bilang produknya halal, tapi saat produksi nyatanya tidak. Maka, pemakaian DNA Babi jadi pilihan agar produknya menguntungkan, karena babi kan murah,” jelas Dosen UIN Syarif Hidayatullah itu.

Hal ini, lanjut Yanis, karena lemahnya penegakkan hukum dalam menindak pihak yang nakal. Dalam UU JPH nomor 73 tahun 2014 pasal 56, menyebutkan barang siapa yang punya sertifikasi halal tapi tidak memelihara kehalalannya, akan didenda dua miliar atau kurungan 5 tahun.

“Ini terlalu ringan sebenarnya. Tapi ini saja tidak dijalankan. Nah jika undang-undang ini tidak dilaksanakan akan tambah carut-marut, dan mengancam kesehatan masyarakat,” pungkasnya.

Dalam mengawasi bahan baku obat dan makanan, YPHI berharap BPOM agar lebih teliti. Serta, tidak pandang bulu dalam menegakkan hukum untuk pihak industri yang tidak sesuai dengan prosedur.

(Png – sisidunia.com)