Home » Travel & Kuliner » Ramah Lingkungan, Gerai Ini Bisa Menyajikan Kopi Dalam Gelas Kertas

Ramah Lingkungan, Gerai Ini Bisa Menyajikan Kopi Dalam Gelas Kertas



Jakarta – Pemakaian gelas kertas untuk kopi dikurangi, untuk mendukung gerakan ramah lingkungan. Gerai kopi ini mulai menerapkan biaya tambahan untuk gelas kertas.

Ramah Lingkungan, Gerai Ini Bisa Menyajikan Kopi Dalam Gelas Kertas

Ramah Lingkungan, Gerai Ini Bisa Menyajikan Kopi Dalam Gelas Kertas

Bagi pencinta kopi Starbucks, entah ini jadi kabar baik atau kabar buruk. Gerai kopi berjaringan internasional ini akan menerapkan sistem baru, mereka akan mengenakan pajak untuk setiap gelas kemasan yang digunakan.

Dilansir dari Foodbeast (27/2) Starbucks baru saja mengumumkan informasi ini lewat siaran pers yang ditujukan pada pasar EMEA (Eropa, Timur Tengah dan Asia). Penerapan pajak pada gelas take away ini jadi salah satu lagkah untuk mendorong penghematan demi gerakan ramah lingkungan.

Di Inggris misalnya, Starbucks memberikan diskon senilai 0,35 USD atau sekitar Rp 4.700 untuk pembeli yang datang membawa gelas atau tumbler sendiri. Namun bukan berarti Starbucks lantas tidak menyediakan cangkir sama sekali.

Di Gerai Kopi Ini Beli Kopi dengan Gelas Kertas Akan Kena Biaya TambahanFoto: Getty Images

Gerai kopi ini tetap menyediakan paper cup seperti biasa namun pembeli akan dikenakan pajak. Setiap pembelian take aaway dengan gelas kertas, pembeli akan dikenai biaya tambahan senilai 0,07 USD atau sekitar Rp 950.

Baca juga : Pakai Kimono, Nikita Willy Nikmati Liburan di Tokyo

Di sisi lain, Starbucks juga menyediakan gelas dan tumbler yang dapat dibeli. Jaringan gerai kopi ini berharap dengan adanya penerapan pajak ini bisa mengurangi penggunaan gelas kertas sekali pakai.

Di Gerai Kopi Ini Beli Kopi dengan Gelas Kertas Akan Kena Biaya TambahanFoto: Teen Vogue

Selama tiga bulan di 20-25 toko di pusat kota London , uji coba penerapan pajak ini akan berlangsung. Dana yang nantinya terkumpul akan digunakan untuk membantu Hubbub. Komunitas ini adalah kelompok studi perubahan perilaku lokal.

Setelah penelitian ini selesai, data akan dianalisis untuk digunakan lokasi pasar mana sasaran berikutnya. Semua negara berpotensi untuk diterapkan pajak termasuk Amerika, namun prosesnya bertahap.

(Png – sisidunia.com)