Home » Techno » Sejak Abad ke-18 Alat Deteksi Kebohongan Sudah Ada

Sejak Abad ke-18 Alat Deteksi Kebohongan Sudah Ada



Jakarta – Sejarah peradaban kerap dipenuhi dengan usaha mendeteksi kebohongan dan memverifikasi kebenaran. Sejak abad ke-18 beberapa metode pendeteksian termasuk percobaan terhadap air mendidih. Dalam tes ini, subjek akan memasukkan tangannya ke dalam panci berisi air mendidih, jika tidak mengalami luka ia diyakini mengatakan kebenaran.

Sejak Abad ke-18 Alat Deteksi Kebohongan Sudah Ada

Ilustrasi

Dilansir dari Polygraph hexaminer, seorang ahli kriminologi Italia, Cesare Lombroiso mengembangkan pendekatan ilmiah pada awal tahun 1895, ia melakukan eksperimen dalam mendeteksi penipuan dengan mencoba mencatat perubahan tekanan darah. Alat tersebut dinamakan “Lombroso’s Glove”, sayangnya minat utamanya adalah identifikasi kriminal melalui karakterisitik fisik dan tidak memilik waktu untuk melanjutkan eksperimennya.

Baca juga : Nokia Kembali Hadirkan Seri 8110 Dengan Versi Anyar

Selanjutnya seorang warga Italia bernama Mosso melakukan investigasi lebih lanjut mengenai perubahan volume darah selama tes kebohongan dengan menggunakan perangkat kasar yang dikenal sebagai “Mosso’s Cradle. Sekira awal Perang Dunia 1, orang Italia lainnya Vittorio Benumbs melakukan eksperimen dengan alat yang mengukur dan mencatat kedalaman pernafasan subjek, percobaan ini diyakini pola pernafasan seseorang yang berubah dapat menentukan berbohong atau tidak.

Saat Perang Dunia I, Pemerintah Amerika Serikat menugaskan seorang psikolog, Dr Willian M. Marston, untuk merancang metode dalam mempertanyakan tawanan perang. Dengan menggukan Sphygmomanometer, ia melakukan eksperimen dengan melakukan pembacaan tekanan darah selama interogasi.

Tahun 1921, Departemen Kepolisian Berkeley, California mendorong Dr. John A. Larson prsikiater untuk mengembangkan alat pendeteksi kebohongan yang modern, disebut Polygraph. Instrumen tersebut membuat rekaman permanen dari tekanan darah, denyut nadi, dan pernafasan. Akhirnya Polygraph ini digunakan bertahun-tahun oleh Departemen Kepolisian Berkeley.

Leonard Keeler, seorang psikolog tertarik terhadap teknik tersebut dan ia mengembangkan instrumennya sendiri yang memiliki fitur tambahan untuk mengukur perubahan ketahanan kulit terhadap listrik. Umumnya istilah tersebuh dikenal sebagai “galvanic skin respons”.

Kemudian Keeler dikenal sebagai bapak Polygraph zaman modern. Ia menggabungkan tiga komponen pneumograf, kardiograf, dan respons kulit galvanik. Beberapa mesin lebih modern menambahkan perangkat elektronik lainnya, namun ketiga komponen utama Keeler terdapat dalam polygraf masa kini.

(Png – sisidunia.com)