Home » Gaya Hidup » Benarkah Sifat Selingkul Menjadi Turunanan ke Anak ?

Benarkah Sifat Selingkul Menjadi Turunanan ke Anak ?



Jakarta – Masyarakat Indonesia belakangan ini diramaikan dengan peristiwa ‘pelakor’ atau singkatan dari perebut laki orang yang kerap viral di sosial media. Yang mana akhirnya, peristiwa-peristiwa ini akhirnya membuat kita menjadi menelisik soal perselingkuhan.

Selingkuh Biasanya Dilakukan Oleh Pria Dengan IQ Rendah ?

Ilustrasi

Banyak beredar kabar, tabiat selingkuh dari seseorang ini adalah sebuah turunan alias bawaan dari keluarga. Benarkah demikian?

Jika dilihat dari sebuah studi, maka bisa dibilang bahwa memang tabiat berselingkuh ini memang sedikit banyak menurun mengalir di keluarga. Seperti disitat Hngn, sebuah studi yang digelar di Texas Tech University mengungkapkan bahwa individu yang berselingkuh, kemungkinan tergoda untuk melakukan sebuah perselingkuhan dikarenakan Orangtua mereka juga melakukan hal yang sama.

Baca juga : Begini Cara Kenali dan Penanggulangan Katarak Pada Anak

“Orang-orang yang memiliki Orangtua berselingkuh, dua kali lebih besar untuk juga berselingkuh jika dibandingkan rekan sebayanya yang memiliki Orangtua tidak berselingkuh,” tulis sang penulis studi yang studinya dipublikasikan dalam Journal of Family Issues tersebut.

Lebih lanjut, pemimpin studi yakni Dr. Dana Weiser mengatakan bahwa Orangtua secara inheren mempengaruhi persepsi anak-anak mereka tentang hubungan romantis, dalam cara mereka mengkomunikasikan perselingkuhan, baik itu secara verbal maupun non-verbal.

“Orangtua mungkin mencoba untuk membenarkan perilaku mereka atau menggambarkan bahwa sebuah ketidaksetiaan lebih dapat diterima, yang kemudian mempengaruhi keyakinan dan perilaku anak. Orangtua mengajarkan anak-anak mereka tentang apa yang dapat diterima dan bermanfaat dalam hubungan romantis dan perilaku Orangtua mungkin memiliki konsekuensi yang tidak diinginkan bagi hubungan asmara anak-anak mereka sendiri,”kata Dana seperti dilapor Self.

Diketahui lebih lanjut, studi di atas juga mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh psikolog University of Queensland, Brendan P. Zietsch, yang mengungkapkan bahwa orang yang berselingkung membawa gen reseptor oksitosin dan vasopresin yang membuat kemungkinan membuat mereka menjadi berselingkuh, menurut The New York Times.

Selain itu, seperti disitat Evoke, dari sebuah studi yang dilakukan oleh Texas Tech university dan University of Nevada juga menunjukkan bahwa menjadi tabiat menjadi tukang selingkuh kemungkinan bisa menurun mengalir di dalam keluarga.

Periset mengamati sekitar 300 siswa untuk bisa melihat apakah ada hubungan antara Orangtua yang terlibat dalam perselingkuhan dan kemungkinan anak juga melakukan hal yang sama. Para periset bertanya kepada para siswa, apakah mereka pernah berselingkuh, dan sebanyak 30% menjawab bahwa mereka memang pernah berselingkuh. Lalu diberikan juga pertanyaan apakah ibu dan ayah mereka pernah melakukan selingkuh dengan orang lain, sebanyak 33% menjawab iya dengan indikasi bahwa pihak ayah lebih banyak melakukan perselingkuhan tersebut dibandingkan dengan pihak ibu.

Disebutkan lebih lanjut para siswa yang mengaku pernah menyelingkuhi pasangannya sendiri, dua kali lebih mungkin memiliki Orangtua yang juga telah berselingkuh. Di mana hal ini menunjukkan indikasi bahwa mempunyai Orangtua yang punya tabiat selingkuh, kemungkinan akan membuat diri Anda juga berselingkuh di masa mendatang.

Namun, hal ini bukan berarti menjadikan tidak ada harapan bagi orang-orang yang memiliki orangtua atau sejarah keluarga yang berselingkuh. Sebab pada dasarnya, seorang inividual tetap bisa untuk tidak melakukan kesalahan yang sama yang dilakukan oleh Orangtua nya.

“Riwayat adanya perselingkugan Orangtua hanyalah salah satu faktor perselingkuhan. Masih banyak juga orang-orang yang Orangtua nya berselingkuh, namun di kehidupan asmara pribadinya adalah sosok yang sangat tekun,” tambah sang penulis studi tersebut.

Dana menyarankan agar seseorang harus bersedia untuk berupaya mengasah kemampuan berhubungan. Belajar untuk berkomunikasi dan memahami apa yang diri harapkan dari pasangan, merupakan salah satu dari beberapa cara seseorang dapat mulai membangun hubungan asmara yang solid yang tidak mungkin memiliki masalah soal perselingkuhan.

(Png – sisidunia.com)