Home » Gaya Hidup » Begini Cara Kenali dan Penanggulangan Katarak Pada Anak

Begini Cara Kenali dan Penanggulangan Katarak Pada Anak



Jakarta – Katarak atau kekeruhan lensa mata menyebabkan lebih dari 50 persen gangguan pengelihatan dan kebutaan di Indonesia dan dunia. Hal ini dikarenakan proses degeneratif yang sangat dipengaruhi oleh faktor usia, sehingga kasusnya meningkat terus seiring dengan meningkatnya warga lanjut usia.

Cara Kenali dan Penanggulangan Katarak Pada Anak

Ilustrasi

Menurut riset tahun 2010, World Health Organization (WHO) memperkirakan terdapat 285 juta orang di seluruh dunia yang mengalami gangguan pengelihatan dan low vision, yang sebagian besar (90 persen) berada di negara berkembang, seperti Indonesia.

Baca juga : Simak Manfaat Buah Naga Bagi Tubuh Yang Mungkin Belum Anda Ketahui

Meski secara umum faktor utama munculnya katarak adalah karena proses degeneratif atau bertambahnya usia, namun ada pula katarak yang disebabkan akibat trauma atau cedera pada mata. Kemudian penyakit atau gangguan metabolisme, paparan langsung sinar radiasi dan sinar UV dalam waktu lama, penggunaan obat dalam jangka panjang atau karena faktor genetik.

Dokter spesialis mata, Dr. Ni Retno Setyoningrum, SpM (K) menjelaskan, dalam beberapa kasus katarak bisa diderita oleh bayi dan anak-anak. Faktor penyebabnya antara lain karena terjadi infeksi atau malnutrisi ketika bayi berada dalam kandungan. Bayi yang lahir prematur, ibu terkena rubella atau toksoplasma akan meningkatkan kemungkinan bayi yang lahir memiliki gejala katarak.

Gejala katarak pada anak dapat dideteksi sejak dini. Misalnya jika mata anak terlihat ada keputihan di pupil, bola mata tampak tidak seimbang atau anak mudah silau saat terkena sinar matahari.

“Katarak pada anak akan semakin menganggu seiring perkembangan usia anak, sehingga perlu dilakukan tindakan operasi katarak sedini mungkin untuk mengembalikan fungsi pengelihatan agar tidak memepengaruhi perkembangan anak,” kata dokter Ni saat ditemui Okezone dalam kegiatan sosial Operasi Katarak Gratis yang diselenggarakan JEC di kawasan Jakarta Barat, Sabtu (24/2/2018).

Ia memaparkan, prosedur operasi katarak pada pasien anak menjadi lebih kompleks dibandingkan dewasa. Oleh sebab itu tim dokter perlu melakukan anastesi umum guna memastikan operasi berjalan lancar dan nyaman.

“Katarak masuk dalam kategori gangguan mata yang dapat dipulihkan dengan tindakan operasi. Pada pasien bayi yang menderita katarak, tindakan operasi disarankan berlangsung padan rentang usia 2 bulan sampai 4 bulan. Semakin cepat melepas katarak pada bayi, semakin baik dampaknya pada fungsi pengelihatan jangka panjang,” tuturnya.

Sebelum pelaksanaan operasi, sambung dokter yang juga Ketua Layanan Children Eye & Squint Clinic JEC Kedoya, pasien anak harus menjalani pemeriksaan pra-operasi terlebih dahulu, yang meliputi kondisi awal sebelum operasi, perlu atau tidaknya lensa intraokular sampai dengan pemeriksaan kondisi kesehatan secara menyeluruh, guna mamastikan anak telah siap menjalani operasi katarak. Setelah pelaksanaan operasi, pasien anak perlu melakukan terapi amblyopia.

“Terapi ini untuk membiasakan pasien anak beradaptasi dengan kondisi mata yang baru. Dukungan dan perhatian dari orangtua dan keluarga menjadi faktor penting yang membantu kesembuhan fungsi pengelihatan anak,” terang fokter yang menyukai olahraga renang ini.

Di sisi lain, Dr. Setyo Budi Riyanto, SpM (K) sekalu Ketua Layanan Bedah Katarak & Refraktif JEC menjelaskan, bedah katarak meliputi dua tahap, yakni menghilangkan lensa yang keruh dan menggantinya dengan lensa buatan (intraocular lens).

“Saat ini operasi katarak telah menerapkan beberapa teknik bedah modern untuk penanganan katarak, seperti cold phacoemulsification dan Centurion Vision System, dan yang terakhir Bladeless Laser Cataract Surgery (Femtosecond Laser Cataract Surgery). Dengan Femtosecond Laser Cataract atau teknologi operasi katarak tanpa pisau bedah, dokter melakukan insisi (luka sayat) pada mata dengan sinar laser, artinya tanpa pisau bedah dan juga melalui komputer bukan tangan dokter (robotik) dengan tingkat akurasi yang tinggi. Hasilnya, lebih minimal traumatik bagi pasien dan kualitas pengelihatan lebih baik,” ungkapnya.

(Png – sisidunia.com)