Home » News » Unik, Pria di Wonogiri Ini Berprofesi Sebagai Pengepul Ular

Unik, Pria di Wonogiri Ini Berprofesi Sebagai Pengepul Ular



Wonogiri – Ngadimin (55), warga Masaran, Sragen, Jawa Tengah bersabar menunggu beberapa warga yang ingin menjual tangkapan ular di belakang Terminal Ngadirejo, Kabupaten Wonogiri. Padahal saat itu, terik matahari mulai menyengat.

Unik, Pria di Wonogiri Ini Berprofesi Sebagai Pengepul Ular

Pak Lam

Siang itu, Ngadimin yang biasa disapa Pak Lam, sudah mengumpulkan dua karung berukuran 20 kilogram. Ia enggan beranjak, walau karung tersebut sudah dipenuhi ular dari warga.

Di Kabupaten Wonogiri, Pak Lam merupakan salah satu pengepul ular. Biasanya, warga yang menyetor ular tangkapan berasal dari Purwantoro, Slogohimo, Jatisrono, Sidoharjo, Ngadirojo.

Berbisnis jual beli ular bisa menghidupi keluarganya bagi Pak Lam, meski tak mendapatkan untung besar. Sejak masih bujang, Ngadiman sudah berjibaku berburu ular untuk dijual kepada pengepul.

“Awalnya dulu saya mencari ular lalu menjualnya kepada pengepul. Setelah lama mencari ular lama kelamaan saya memilih mengepul warga yang menjual ular lalu saya setorkan ke orang,” kata Pak Lam.

Pak Lam menentukan weton (hari berdasarkan hitungan Jawa), untuk mengumpulkan warga yang menjual ular. Khusus di Ngadirejo, ia datang setiap pasaran pon atau lima hari sekali.

Pak Lam juga biasa mendatangi rumah-rumah warga, tak hanya menunggu di satu tempat untuk membeli ular dari warga. Biasanya, warga yang sudah mengumpulkan banyak ular meneleponnya lalu ia mendatangi rumahnya.

“Dulu saya bisa berkeliling sampai Praci, Batu Pulung, hingga Pacitan. Tapi sekarang di sana sudah ada pengepulnya. Jadi saya cukup di Ngadirejo saja,” tandas Pak Lam.

Menurut Pak Lam, berbisnis ular susah-susah gampang. Pasalnya, tidak semua jenis ular laku di pasaran.

Ular yang berbisa justru tidak memiliki nilai jual tinggi. Sementara ular yang tidak berbisa banyak dicari orang untuk aneka keperluan. Ia mencontohkan ular sawah yang tidak berbisa menjadi ular yang paling banyak dicari pengepul skala besar.

“Saya tidak tahu mengapa ular sawah banyak dicari pengepul skala besar. Bahkan harga ular sawah dengan ukuran besar mencapai Rp 40.000 perkilogramnya,” ungkap Pak Lam.

Pak Lam bercerita saat menyetor ke salah satu juragan melihat ular-ular yang disetor itu dibelah dari kepala, badan hingga ekor. Selanjutnya dijemur hingga agak mengering. “Setelah itu badan ular dibalik dan dibentuk melingkar seperti obat nyamuk,” jelas Pak Lam.

Harga ular sawah, sambung Pak Lam, makin tinggi bila ukuran ularnya besar. Hitungan nilai perkilogramnya berbeda dengan ular sawah yang masih kecil. “Kalau ularnya kecil-kecil satu kilogramnya dihargai Rp 10.000 saja,” ujar Pak Lam.

Ditanya harga beli ular berbisa seperti cobra, ia hanya berani membeli Rp 12.000 perkilogramnya saja. Harga ular cobra rendah karena tidak banyak dicari orang. “Selain itu risiko membawa ular cobra sangat besar. Salah membawa kita bisa digigit,” tandas Pak Lam.

Baca juga : Usai Berseteru, Ovie dan Nila Sepakat Damai

Tak hanya menerima ular sawah, Pak Lam juga menerima jenis ular berbadan besar dan panjang seperti ular sanca. Untuk ular jenis ini, hitungannya berbeda.

Bila ular sawah dihitung berat maka ular sejenis sanca dihitung panjangnya. Semakin panjang ular maka harganya semakin tinggi.

“Kalau panjangnya ular tiga meter lebih maka permeternya dihargai Rp 50.000. Tetapi kalau panjangnya hanya 2,5 meter harganya akan turun,” ujar Pak Lam.

Sementara itu, Joko Harmadi (37), warga Girimarto yang menjual ular ke Pak Lam mengaku tidak bisa memastikan jumlah ular yang dijual kepada pria asal Sragen tersebut. Pasalnya, ular sawah baru banyak saat musim panen tiba.

“Ular sawah banyak muncul manakala panen tiba. Kalau tanaman di sawah sudah tinggi susah mencari ularnya,” kata Joko.

Pria yang kesehariannya bekerja sebagai tukang bangunan tak hanya mencari ular di sawah. Ia bersama warga lain biasa mencari di sungai.

(Png – sisidunia.com)