Home » News » Katak Ini Punya Racun Jauh Lebih Kuat Dibanding Ular

Katak Ini Punya Racun Jauh Lebih Kuat Dibanding Ular



Jakarta – Spesies katak yang diketahui memiliki racun telah ditemukan para peneliti. Dua spesies katak yang diketahui beracun yakni katak Bruno (Aparaspenodon Brunoi) dan katak Greening (Corythomantis Greening).

Katak Ini Punya Racun Jauh Lebih Kuat Dibanding Ular

Katak Bruno

Dilansir Natural History Museum, kedua katak itu ditemukan di Brasil dan kulitnya menghasilkan sekresi yang beracun. Spesies ini memiliki tonjolan tulang yang berduri, sehingga membuat racunnya berbisa.

Pada 2015, sebuah tim ilmuwan melaporkan bahwa katak Greening dan katak berkepala Bruno memiliki keuntungan defensif yang signifikan ketika harus mentransfer sekresi kulit dan toksik. Tidak seperti katak panah beracun, kedua spesies ini memiliki duri bertulang di kepala.

Saat menghadapi tekanan, duri akan menembus kulit dan katak dianggap berbisa karena sekresi kulit beracun melapisi duri ini dan akan menyuntikkan racun melalui luka di kulit predator, termasuk manusia.

Salah satu ilmuwan yang terlibat dalam studi katak tersuntik saat sedang mengumpulkan hewan. Akibatnya, ia merasakan sakit yang menyebar ke lengan selama lima jam. Untungnya, ia menangani katak yang tidak terlalu beracun.

Jika terkena mulut, para ilmuwan percaya bahwa racun tersebut akan lebih bekerja. Ternyata kedua spesies katak tersebut memiliki kemampuan memutar kepala yang tidak bisa dilakukan spesies lain, sehingga memiliki banyak kesempatan untuk menyuntikkan racun ke sekitarnya.

Racun dari katak berkepala Bruno diperkirakan 25 kali lebih manjur dibandingkan ular Ferdelance dari Amerika Tengah dan Selatan. Sedangkan racun katak Greening dari Brazil, dua kali lebih kuat dari ular penggangu.

Namun, duri kepala spesies ini lebih berkembang dan kelenjar kulitnya lebih besar sehingga memungkinkan banyaknya racun yang disekresikan dan disuntikkan. Kebanyakan dari katak beracun menggunakan racun tersbut untuk pertahanan diri melawan predator.

Para penulis di 2015 menyampaikan, mungkin ada beberapa amfibi beracun yang jika dipelajari lebih jauh sebenarnya memiliki bisa. Selain itu, disarankan agar mempelajari katak-katak dengan duri di daerah kepala untuk mengidentifikasi apakah mereka juga berbisa atau tidak.

P. Ranwellai termasuk genus katak yang diketahui memiliki tetrodotoxin mematikan di sekresi kulitnya walaupun belum diuji. Jadi, meski jarang kemungkinan ada lebih banyak spesies amfibi berbisa yang harus diidentifikasi secara formal.

(Png – sisidunia.com)