Home » News » Ternyata Hewan Ini Bisa Pancarkan Sinar Biru

Ternyata Hewan Ini Bisa Pancarkan Sinar Biru



Jakarta – Semua makhluk hidup pasti memiliki ciri khas sendiri. Salah satunya adalah bugnlon, hewan yang terunik di antara hewan lainnya.

Ternyata Hewan Ini Bisa Pancarkan Sinar Biru

Bunglon

Para peneliti telah menemukan hal menarik dari bunglon selain kemampuan merubah warna tubuhnya, yaitu bunglon juga berkomunikasi dengan sinar di tengkoraknya.

Baca juga : Tewasnya Sopir Taksi Online Diduga Korban Perampokan

Sebuah peneliti yang dipimpin oleh David Prötzel, seorang mahasiswa PhD di Bavarian State Collection of Zoology, telah menunjukkan bahwa tengkorak bunglon berpendar di bawah sinar ultraviolet melalui kulit bersisik mereka.

Fenomena tersebut disebut biofluoresensi, berbeda dengan bioluminescence, karena bukanlah reaksi kimia. Dalam kasus ini, organisme hidup menyerap cahaya dan memancarkannya kembali dengan warna yang berbeda.

Jika manusia ingin melihat efek tersebut maka organisme perlu disinari oleh cahaya eksternal, seperti lampu UV.

“Kami hampir tidak dapat mempercayai apa yang kami lihat saat kami menyinari bunglon dengan lampu UV, dan hampir semua spesies menunjukkan cahaya biru di kepalanya, beberapa bunglon bahkan memancarkannya di sekujur tubuh,” kata Prötzel.

Efek pada bunglon ini merupakan hal yang istimewa. Hal itu karena biasanya efek tersebut ditemukan pada makhluk laut dan jarang ada pada vertebrata terestrial.

Sinar tersebut bukan muncul di seluruh tubuh bunglon, melainkan di pola potongan tulang yang bernama tuberkel, yang menonjol dari permukaan kepala dan tulang belakangnya.

Namun, para ilmuwan belum dapat mengetahui fungsinya. Oleh karena itu, Prötzel dan tim peneliti memutuskan untuk mengamati lebih dekat, menggunakan berbagai teknik untuk memeriksa tuberkel.

Sebenarnya, telah diketahui sejak lama mengenai tulang yang berpendar (termasuk gigi manusia). Namun, keberadaannya tersembunyi karena biasanya berada di bawah lapisan jaringan tubuh yang tidak terjangkau sinar UV.

“Analisis jaringan ini menghasilkan kejutan lainnya. Rekonstruksi 3D histologis kami menunjukkan bahwa kulit yang menutupi tuberkel di tengkorak sangatlah tipis, dan hanya terdiri dari lapisan epidermis transparan,” kata rekan penulis, Martin Heß, dari BioCenter Ludwig-Maximilians-Universität di Munich.

Ia mengatakan, hal itu bertindak sebagai jendela yang memungkinkan sinar UV mencapai tulang, di mana ia diserap dan kemudian dipancarkan lagi sebagai sinar neon biru, sebagaimana dilaporkan dari Science Alert.

Setiap spesies bunglon memiliki konfigurasi yang sangat berbeda. Selain itu, bunglon jantan memiliki tonjolan yang jauh lebih runcing daripada betina.

Kemampuan bunglon dalam melihat sinar ultraviolet, kemungkinan berarti reptil tersebut bisa melihatnya satu sama lain dan menggunakannya untuk berkomunikasi. Para peneliti percaya bahwa pola tersebut dapat digunakan untuk membantu bunglon mengenali spesies lain, menarik pasangan, dan menemukan bunglon lainnya.

(Png – sisidunia.com)