Home » Hiburan » Dari Keluarga Sunda, Bisma Karisma Menyulap Diri Jadi Orang Makassar

Dari Keluarga Sunda, Bisma Karisma Menyulap Diri Jadi Orang Makassar



Jakarta – Berasal dari keluarga Sunda, aktor Bisma Karisma. Namun, di film terbarunya, Silariang: Cinta yang (tak) Direstui, pria 27 tahun kelahiran Bandung itu harus menyulap diri menjadi pria asli Makassar.

Dari Keluarga Sunda, Bisma Karisma Menyulap Diri Jadi Orang Makassar

Bisma Karisma

“Terima tawaran main film ini salah satunya karena mau menantang diri, bisa enggak dari Bisma yang Sunda pisan jadi Bisma yang Makassar banget,” kata Bisma.

Bisma berlatih sambil membaca naskah serta berinteraksi dengan sejumlah warga asli Makassar saat observasi sebelum proses shooting, agar fasih bicara dalam dialek dan bahasa Makassar. Cara bicara Bisma dalam film pun berubah total dengan ujaran khas seperti tambahan “ji”, “ki”, dan “mi” di setiap percakapan.

Personel boy band SM*SH itu berperan sebagai Yusuf, seorang wartawan dari keluarga kaya di Makassar. Konflik bermula dari Yusuf yang mengajak kekasihnya Zulaikha (Andania Suri), anak keluarga ningrat, melakukan silariang atau kawin lari karena berbeda kasta.

Proses shooting film produksi Inipasti Communika, Indonesia Sinema Persada, dan Maogi Production itu berlangsung selama 12 hari pada Oktober 2016. Sebagian adegan diambil di Kota Makassar, Kabupaten Pangkep, serta Rammang-Rammang di Kabupaten Maros.

Baca juga : Denada Kembali Tuai Kecaman Terkait Penampilannya di Video Klip Terbaru

Para pemeran dan kru film menghadapi cuaca lumayan buruk selama proses shooting, selain kendala jarak karena lokasi yang berjauhan satu sama lain. Pergantian cuaca ekstrem membuat Bisma jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit selama dua hari.

Bisma tidak mengeluh, walau sempat tumbang selama proses produksi film. Dalam film Silariang yang disebutnya mengemas budaya Bugis Makassar dengan cara sangat pop, dan justru senang mengaku banyak belajar dari keterlibatanya.

“Film ini membuat saya belajar bahwa menghargai keputusan orang tua sangat penting. Banyak anak dengan mudah menentang dengan alasan cinta, padahal mereka bisa coba melihat sudut pandang orang tua yang punya lebih banyak pengalaman,” kata dia.

(Png – sisidunia.com)