Home » Gaya Hidup » Gadis Asal Australia Ini Melamun Setiap Saat

Gadis Asal Australia Ini Melamun Setiap Saat



Jakarta – Siapa saja dan kapan saja pasti anda akan melamun. Namun apa jadinya jika tak bisa berhenti melamun? Seperti yang dialami gadis asal Canberra, Australia.

Gadis Asal Australia Ini Melamun Setiap Saat

Ilustrasi

Natalie Switala didiagnosis mengalami maladaptive daydreaming disorder, yakni sindrom aneh yang membuatnya terjebak dalam lamunan, bahkan hingga berjam-jam dalam sehari. Kondisi ini sudah dialaminya sejak ia berusia 13 tahun.

Baca juga : Awas, Zodiak Ini Diramalkan Ciong di Tahun Anjing

“Aku akan melamun dengan sangat intens, dan tak bisa melakukan hal lain seperti bicara dengan orang, ataupun makan dan minum. Jika melamun biasa, Anda bisa menghentikannya lalu kembali melakukan aktivitas lain. Ketika aku melamun, aku bisa tertawa, bergumam, bahkan menangis tanpa bisa dengan mudah kembali ke dunia nyata,” ujar Natalie, dikutip dari ABC Australia.

Hingga saat ini, maladaptive daydreming belum dikategorikan sebagai gangguan mental resmi yang diakui secara medis. Namun studi soal kasus ini sudah ada sejak 15 tahun lalu, dan diinisiasi oleh pakar psikologi Profesor Eli Somer dari European Society for Trauma and Dissociation.

Dikatakan Prof Somer, maladaptive daydreaming berbeda dengan gangguan jiwa seperti skizofrenia di mana pasien melihat atau mendengar sesuatu secara random. Pada kasus ini, pasien memiliki kontrol terhadap apa yang ia lihat.

“Melamun adalah hal yang normal. Tapi ketika Anda melamun selama berjam-jam dan mengganggu keseharian Anda, tentunya hal ini adalah masalah,” ujarnya.

Natalie mengatakan ia mulai melamun secara intensif sejak orang tuanya bercerai. Pada fase itu, kekerasan sering dialaminya. Untuk melarikan diri dari kesedihan, Natalie pun sering melamun di lemari atau di bawah tempat tidurnya selama berjam-jam.

Lambat laun, ia kehilangan kontrol terhadap kapan ia harus melamun dan kapan harus berhenti. Di usianya yang kini sudah beranjak dewasa, ia kerap kehilangan interaksi sosial karena tak bisa melepaskan diri dari lamunan.

“Aku tak punya kontrol. Lamunan itu bisa muncul kapan saja, bahkan saat aku bekerja, makan atau saat mandi. Aku merasa seperti pengguna narkotika yang kecanduan oleh obat yang ia buat sendiri,” tutupnya.

(Png – sisidunia.com)