Home » News » Seorang Dokter Gigi Diharuskan Membayar Rp 10 Miliar Kepada Ibu Kandungnya

Seorang Dokter Gigi Diharuskan Membayar Rp 10 Miliar Kepada Ibu Kandungnya



Taipei – Seorang dokter gigi wajib membayar santunan kepada ibu kandungnya senilai lebih dari Rp 10 miliar setelah diputuskan pengadilan tinggi negara Taiwan. Kewajiban tersebut merupakan biaya ganti rugi perawatan dan sekolah dirinya yang telah dikeluarkan oleh sang ibu.

Seorang Dokter Gigi Diharuskan Membayar Rp 10 Miliar Kepada Ibu Kandungnya

Ilustrasi

Seperti dikutip dari laman The Guardian.com pada Rabu (3/1/2018), dokter gigi tersebut merupakan seorang pria berusia 41 tahun bermarga Chu dari Taiwan.

Baca juga : Kejam, Seorang Bayi Dibuang Orang Tuanya di Kuburan Lubuklinggau

Pada 20 tahun silam, pria itu meneken janji dengan ibu kandungnya yang bermarga Lo untuk mengganti semua biaya tumbuh kembang dirinya dari kecil hingga dewasa.

Perjanjian tersebut dibuat lantaran sang ibu merasa khawatir tidak akan ada yang merawatnya ketika beranjak tua. Terlebih, dirinya adalah orangtua tunggal yang harus merawat dua putranya pasca-bercerai pada tahun 1990 silam.

Hakim menilai perjanjian tersebut tidak cacat hukum karena ditandatangani oleh kedua anak Lo ketika menginjak usia dewasa, yakni usia 20.

Selain itu, penghasilan yang didapat Chu dari profesi dokter gigi juga dianggap telah cukup untuk membayar biaya ganti rugi senilai 21,3 juta dolar Taiwan, atau sekitar Rp 10,1 miliar.

Sejatinya, tuntutan Lo adalah keterpaksaan karena sebagai ibu kandung, dia merasa kedua putranya semakin menelantarkan dirinya setelah masing-masing memiliki pasangan.

Lo juga menyebut, pasangan hidup kedua anaknya pernah beberapa kali mengirim surat peringatan kepada dirinya untuk tidak lagi bergantung secara finansial.

Lo mengajukan gugatan hukum sejak 8 tahun lalu ketika kedua anaknya menolak memenuhi perjanjian tertulis tersebut.

Putra bungsu Lo menyebut, perjanjian tersebut tidak masuk akal karena menyalahi kodrat orangtua dalam merawat buah hatinya. Lo pun digugat balik, tapi kandas di pengadilan Taiwan karena kurangnya bukti.

(Png – sisidunia.com)