Home » Travel & Kuliner » Restoran di Italia Ini Sajikan Makanan Gratis Untuk Para Tunawisma

Restoran di Italia Ini Sajikan Makanan Gratis Untuk Para Tunawisma



Jakarta – Untuk mencicipi hasil masakan koki Italia pemenang bintang Michelin, Massimo Bottura, biasanya para tamu di restoran “Modena” harus membayar 250 euro (Rp4 juta). Namun di restoran terbarunya di Milan, Italia, Massimo tidak mengutip satu sen pun.

Restoran di Italia Ini Sajikan Makanan Gratis Untuk Para Tunawisma

Restoran di Italia Ini Sajikan Makanan Gratis Untuk Para Tunawisma

Massimo menyajikan makanan untuk warga miskin, yang kebanyakan tunawisma, di restoran yang ia namai Refettorio Ambrosiano itu. Ia bahkan berencana membuka dua restoran serupa di Paris dan di Napoli, tahun depan.

Baca juga : 4 Makanan Natal Ini Bisa Membuat Pinggul Lebar

Tamu-tamu kelas atas tidak diperbolehkan bersantap di restoran Massimo yang baru ini. Restoran-restoran itu akan menyajikan makanan gratis yang dimasak dari bahan-bahan makanan yang tersisa atau tidak terjual dari supermarket dan disajikan hanya untuk kaum papa.

Kini, dia berencana mengembangkan eksperimen kegiatan amalnya lebih jauh.

Bertempat di sebuah gedung teater tua di pinggiran kota, Refettorio memasak makanan gratis dari sisa-sisa toko, dengan menggunakan resep-resep kreasi Massimo dan para koki terkenal lainnya.

“Saya tidak pernah menganggap bahan-bahan ini adalah sampah,” Massimo mengatakan kepada kantor berita Reuters.

“Saya selalu berpikiran remah-remah roti, tomat-tomat yang sudah terlalu matang, pisang-pisang berwarna kecoklatan adalah kesempatan bagi kita. Kesempatan untuk menunjukkan apa yang bisa kita buat dengan kreativitas kita.”

Massimo memulai proyek menggunakan kembali sisa-sisa bahan dari tempat-tempat makan di Milan International Expo. Dengan bantuan yayasan gereja, Caritas Ambrosiana, inisiatif ini menjadi proyek tetap.

Tidak seperti layaknya dapur-dapur umum amal, para tamu tidak perlu antre.

“Saya menyebutnya restoran, bukan dapur umum,” kata Massimo.

Jumlah tamu dibatasi hanya 96 orang per hari. Namun Massimo dan Caritas mengatakan makan di restoran seperti itu, membantu para tunawisma menaikan kepercayaan diri dan menguasai kembali kehidupan mereka.

“Kuantitas tidak menentukan kesuksesan,” kata kepala Caritas, Luciano Gualzetti.

“Kuncinya adalah cara anda menawarkan bantuan dan yang lebih penting bantuan seperti apa yang bisa memicu diri mereka.”

Sekira sepertiga dari total makanan yang diproduksi di dunia, atau sekira 1,3 miliar ton, terbuang atau hilang, menurut Badan Pangan dan Pertanian PBB, FAO.

(Png – sisidunia.com)