Home » News » Peneliti LIPI Menyebut Ada Jenis Ulat Bulu Yang Beracun

Peneliti LIPI Menyebut Ada Jenis Ulat Bulu Yang Beracun



Jakarta – Ada ulat bulu mematikan yang belakangan ini muncul, pada pesan berantai. Serangannya bisa berujung maut, bahkan dalam empat jam.

Peneliti LIPI Mneyebut Ada Jenis Ulat Bulu Yang Beracun

Peneliti LIPI Mneyebut Ada Jenis Ulat Bulu Yang Beracun

Namun tidak perlu khawatir, tidak ada ulat bulu di Indonesia yang memiliki serangan fatal hingga mengancam nyawa, hal itu dipastikan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Peneliti spesialis kupu-kupu malam atau ngengat LIPI Hari Sutrisno mengatakan ada dua Janis ulat bulu.

Yakni ulat bulu yang memiliki insting bertahan diri, seperti membungkus diri dalam daun. Kemudian ada ulat bulu yang tidak memiliki insting bertahan diri.

“Yang tidak memiliki insting ini adalah ulat yang memiliki racun atau venom,” katanya di kantor LIPI.

Nah kelompok ulat yang memiliki racun itu juga terbagi menjadi dua. Yakni kelompok pasif dan aktif.

Memiliki bulu yang banyak dan tipis, itulah ciri ulat bulu yang pasif. Disebut pasif karena bulu ulat itu bukan alat untuk mengeluarkan atau menyuntikkan racun.

Jadi kalau memicu gatal, karena bulu itu masuk ke pori-pori kulit. Bukan karena ada racun di dalam bulu itu.

Jenis berikutnya adalah ulat yang beracaun aktif. Ulat ini kriterinya memiliki semacam jarum untuk menyuntikkan racun.

“Meskipun ada ulat bulu yang bisa menyuntikkan racun, hanya berakibat iritasi kulit. Tidak sampai merusak saraf layaknya bisa ular,” jelas peneliti di Pusat Penelitian Biologi LIPI itu.

Bahwa ada ulat bulu yang serangannya bisa mematikan itu tidak benar, untuk itu Hari menegaskan kabar yang beredar.

Hal itu memang dia akui, perkara ada ulat bulu yang bisa membuat gatal sekali. Rasa gatal itu juga bisa disebabkan dari racun ulat.

Pada bulan Januari atau Februari, dia lantas mengingatkan potensi serangan ulat bulu yang bisa muncul. Sebab pada bulan-bulan ini, makanan ulat seperti dedaunan banyak tersedia.

Untuk menangani serangan ulat bulu, Hari mengimbau supaya masyarakat tidak sembarangan. Selain itu potensi serangan ulat bulu juga bisa dipicu keseimbangan alam yang rusak.

Baca juga : Dokter Memperkirakan Pasien Yang Mengalami Depresi Akan Terus Bertambah

Hari mencontohkan fenomena serbuan ulat bulu di Probolinggo 2011 lalu diantaranya dipicu habisnya predator alamiah. Dia menjelaskan predator alamiah ulat bulu adalah semur merah atau rangrang.

Saat itu ternyata hampir di semua pohon mangga semut rangrang sudah tidak ada. “Sebab krotonya diburu untuk makan burung. Harga krotonya saat itu bisa sampai Rp 80 ribu per kilogram,” jelasnya.

Dia juga menjelaskan dengan adanya parasit saat proses pupa atau kepompong, potensi serbuan ulat bulu juga bisa berkurang secara almiah.

Dengan adanya serangan parasit itu, pupa menjadi rusak dan tidak bisa berlanjut hingga muncul kupu-kupu. Akhirnya secara alamiah populasi ulat bulu akan habis karena tidak ada kupu-kupu yang bertelur.

(Png – sisidunia.com)