Home » News » Bupati Jember Menerima Penghargaan Dari Presiden Jokowi

Bupati Jember Menerima Penghargaan Dari Presiden Jokowi



Jember – Rupanya mulai mendapatkan pengakuan nasional, mimpi bersama mewujudkan Jember sebagai kota ramah Hak Asasi Manusia (HAM). Karena komitmennya tersebut, Bupati Faida menerima penghargaan dari Presiden Joko Widodo, di The Sunan Hotel Solo.

Bupati Jember Menerima Penghargaan Dari Presiden Jokowi

Bupati Jember Menerima Penghargaan Dari Presiden Jokowi

Penghargaan yang diterima Bupati Faida, tak lain apresiasi dari Kementerian Hukum dan HAM, yang sejak lama memantau progress pembangunan ramah HAM di Kabupaten Jember. Bahkan beberapa waktu lalu, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, sampai turun langsung ke Jember.

Kabag Humas Pemkab Jember Herwan Agus Darmanto, saat ditemui di kantornya, Kamis (14/12) kemarin, menitipkan salam bangga dari Bupati Faida kepada semua warga Jember. “Ibu Bupati menyebut, penghargaan ini milik semua masyarakat Jember,” tuturnya.

Kata Herwan, untuk menyempurnakan Jember ramah HAM, Bupati Faida akan terus berkomitmen. Salah satunya, HAM dalam konteks pemenuhan pelayanan publik. “Konsep tegak lurus anti pungli dan melawan korupsi, bagian dari salah satu yang terus diperjuangkan bupati bersama Wabup,” paparnya.

Selain itu, bupati dan Wabup juga akan terus meningkatkan fasilitas publik yang bisa diakses semua kelompok. Termasuk masyarakat difabel di Jember. Bahkan, sejumlah kantor pemerintahan di Jember, harus menyesuaikan supaya para difabel mudah mengaksesnya. Tentu yang tidak boleh tertinggal, keseriusan pemkab memperhatikan kaum duafa.

Masih kata Herwan, oleh Bupati Faida sebenarnya kabar baik ini akan disampaikan secara langsung. Namun, karena bupati sedang ada tugas negara di luar kota, akhirnya dia ditunjuk menyampaikan salam hormat untuk masyarakat Jember. “Beliau terus meminta dukungan untuk kemajuan bersama Kabupaten Jember. Seperti yang termaktub dalam 22 janji kerja,” pungkasnya.

Herwan, sempat menunjukkan rekaman hasil wawancara dengan Menteri Yasonna Laoly. Dalam rekaman tersebut, Yasonna menilai Pemkab Jember layak menerima penghargaan tersebut. “Niat baik dan dedikasinya, layak untuk Jember menerima penghargaan ini,” tuturnya.

Kata Yasonna, tak heran kemudian Presiden Joko Widodo, memberi atensi serius kepada Pemkab Jember. Salah satu yang membuat presiden tertarik pada Jember, karena iklim reformasi birokrasi dengan semangat anti korupsi.

Tegas Yasonna mengatakan, salah satu pelanggar HAM berat sebenarnya ada pada pemimpin yang bermental koruptor. Sebab katanya, ada hak masyarakat yang dirampas. Sehingga, berimplementasi pada masa depan bangsa.

Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Muhammad Nurkhoiron, menilai di Kabupaten Jember banyak ditemukan pelanggaran HAM, yang tak lain dosa warisan masa lalu. Salah satunya, tentang kemiskinan masyarakat perkebunan. “Kurangnya perhatian hak atas pendidikan anak, tentang kesehatan dan terusnya, itu tergolong pelanggaran HAM,” terangnya.

Selain persoalan kemiskinan, kelompok marginal seperti disabilitas, manula, yang lepas dari perhatian pemerintah daerah, dia tegaskan juga bagian dari pelanggaran HAM yang dilakukan pemerintah. “Tapi Jember hari ini, kami sudah menemukan ada perlindungan kelompok-kelompok itu, tanpa dibenturkan birokrasi yang bertele-tele. Itu bagus,” pujinya.

Soal hak anak orang miskin meraih pendidikan layak, Pemkab Jember rupanya juga sudah memenuhi dengan program sekolah gratis dan beasiswa untuk mahasiswa berprestasi. “Tugas pemkab bagian dari tugas negara. Tugasnya menjalankan kewajiban HAM,” pungkasnya.

Baca juga : Apa Yang Membuat Seseorang Belum Bisa Move On Dari Mantan ?

Nurkhoiron, juga memuji sikap Pemkab Jember yang serius belajar untuk memperbaiki praktik HAM di masyarakatnya. Bahkan yang patut diapresiasi, sejumlah PNS bahkan pejabat di jajaran Pemkab Jember, juga diwajibkan ikut belajar tentang HAM.

Perlu diketahui, di kehidupan sehari-harinya sejak kecil Bupati Faida sudah diajarkan untuk mempraktikkan pengetahuan tentang HAM. Maklum, keluarga besar Faida, menjunjung tinggi nilai-nilai HAM. Tak heran kemudian, kakak sepupunya Almarhum Munir Said Thalib, sampai disebut sebagai pejuang HAM di Indonesia.

Faida dan Munir memiliki hubungan darah yang sangat dekat. Almarhum ayah Faida – dr Musytahar Umar Thalib, adalah adik kandung dari ibunda Munir yang bernama Jamilah. Faida yang lahir di Malang, pernah kecil bareng Munir dengan doktrin yang sama, menjadi insan yang sadar HAM.

(Png – sisidunia.com)