Home » Hiburan » Efek Justice League Disebut Terkesan Murahan

Efek Justice League Disebut Terkesan Murahan



Jakarta – Rilisnya Justice League hanya selang beberapa pekan setelah Thor: Ragnarok, film adaptasi komik Marvel yang berhasil mendominasi box office sejak ditayangkan pada 26 Oktober 2017. Untuk tahun ini, Justice League menjadi sajian pamungkas DC Films.

Efek Justice League Disebut Terkesan Murahan

Efek Justice League Disebut Terkesan Murahan

Film berdurasi 170 menit yang diproduksi Warner Bros Picture itu merupakan film kelima dalam DC Extended Universe (DCEU).

Sayang, film ini justru memiliki plot lemah dan efek yang terkesan murahan, film yang digadang-gadang kesuksesannya bakal sebesar The Avengers. Tak heran rating sementara di Rotten Tomatoes pada Jumat malam, 17 November 2017 hanya 5,2 dari 10.

Padahal, diperkirakan mencapai US$300 juta atau lebih dari Rp 4 triliun bujet produksinya terbilang fantastis. Dengan dana sebesar itu, menjadi salah satu film termahal yang pernah dibuat Justice League di tangan sutradara Zack Snyder.

Publik memang telanjur mencap film yang diadaptasi dari DC Comics cenderung lebih serius, kelam, kejam, penuh kekerasan, dan kompleks dibandingkan film-film Marvel. Hal ini bisa jadi dikarenakan popularitas yang diraih film Batman terdahulu, yang gelap, penuh dengan kejahatan brutal, namun epik dan fantastis di tangan sutradara Chistopher Nolan.

Di film Justice League, hanya muncul di 10 menit pertama kesan kelam berubah dengan cepat setelah latar tempat bergeser dari Gotham City. Ini merepresentasikan masalah terbesar dalam film secara keseluruhan. Justice League dinilai kurang memiliki koherensi antara narasi, tampilan, tone, dan gaya.

“Film ini bahkan tidak bisa memutuskan bagaimana harus menceritakan awal mula alur ceritanya. Mereka malah menampilkan lima adegan perkenalan, termasuk di mana Bruce Wayne yang sedang mencari Aquaman di Islandia, Wonder Woman melawan serangan teroris di London, Inggris dan pemakaman Superman yang ditampilkan dalam adegan slow motion,” ujar Robbie Collin, kritikus film.

Baca juga : Video, Pesawat Ini Tersambar Petir Usai Lepas Landas

Kisah perkenalan pahlawan-pahlawan supernya juga ditampilkan sebagai elemen-elemen terpisah yang dijahit menjadi satu kesatuan. Perkenalannya tidak terasa mengalir. Dengan beberapa karakter superhero di film tersebut, tak heran jika penonton merasa asing, yang kebanyakan memang pendatang baru dan belum punya film sendiri.

Apalagi bagi karakter yang background story-nya tidak kuat. Jadi tak terasa adanya excitement saat para superhero itu akhirnya membentuk tim untuk melawan musuh.

Justice League juga benar-benar menjadi film superhero tipikal DC yang penuh dengan ‘pidato’ soal tanggung jawab, keadilan, dan sebagainya, dibalut dengan rangkaian adegan aksi, yang kebanyakan bergantung pada efek Computer Generated Imagery (CGI) yang terlalu berat dan kasar. Untuk film besutan sutradara se-inventif Snyder, film ini dinilai terlalu membosankan.

(Png – sisidunia.com)