Home » Hiburan » Sujiwo Tejo Ungkap Kekayaan Budaya Yang Dimiliki Oleh Madura

Sujiwo Tejo Ungkap Kekayaan Budaya Yang Dimiliki Oleh Madura



Madura – Banyak hal ada di pulau Madura. Pengembangannya tidak bisa hanya menggantungkan kepada pemerintah. Budayawan Sujiwo Tejo menyebut pemerintah sibuk mengurus masalah pajak.

Sujiwo Tejo Ungkap Kekayaan Budaya Yang Dimiliki Oleh Madura

Sujiwo Tejo

Pernyataan tersebut dia lontarkan dalam sebuah diskusi di Gedung Pertemuan Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Rabu (8/11/2017). Pria yang biasa tampil dengan topi lebar itu tidak sekadar memberikan pemaparan tentang budaya. Juga membawakan beberapa lagu berbahasa Madura.

Presiden Jancuk itu didatangkan untuk membahas eksistensi budaya lokal dalam kehidupan kaula muda terhadap perkembangan zaman. Dalang, penulis, pelukis, dan musisi berambut gondrong itu heran dengan perkembangan kebudayaan di Pulau Garam. Terutama di bidang kesenian.

Menurut pria kelahiran 31 Agustus 1962 itu, banyak kesenian Madura yang bisa dikembangkan. Salah satunya lagu daerah. Misal Kembang Malathe Pote. Padahal kata pria yang pernah mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB) itu, lagu Madura memiliki cengkok yang kuat. Sangat disayangkan tidak sepopuler lagu daerah lain.

”Gula paneka, tretan, oreng Madura, itu lagu Madura. Saya heran kenapa lagu Banyuwangi yang dijadikan rujukan. Misal Via Vallen sama Nela Karisma. Padahal Madura itu banyak sekali. Kenapa tidak masuk?” ungkapnya.

Banyak kesenian Madura yang bisa didengungkan di pentas nasional hingga mancanegara. Seluruh lapisan masyarakat harus ikut ambil peran melestarikan budaya lokal. Dengan begitu, Madura tidak hanya terkenal dengan karapan sapi.

”Lagu-lagunya bagus-bagus. Saya sudah aransemen juga. Misal Gai’ Bintang. Kurang banyak yang mengolah. Gak harus dikoplo. Saya bawakan lagu Madura. Asal dari hati pasti menarik,” tutur pria asal Kecamatan Ambulu, Jember, itu.

Bicara tentang budayawan, Madura memiliki banyak tokoh. Tinggal generasi selanjutnya yang perlu ikut andil. Meski demikian, para pegiat, budayawan, dan seniman tidak bisa menjamin kelestarian cipta karya serta karsa. Sebab pada hakikatnya, manusia hanya berusaha.

”Peran mereka (budayawan, Red), peran saya, ya cuma ngomong. Bahwa masyarakat nanti berubah atau nggak itu ya (urusan) Tuhan. Bahkan, nabi saja tugasnya hanya nyampein. Yang mengubah itu Tuhan,” imbuhnya.

Pegiat, seniman, dan budayawan perlu terus produktif berkarya. Mengembangkan budaya daerah agar tidak lekang oleh zaman. Perkara berkembang, sadar dan tidaknya masyarakat, itu urusan Yang Maha Esa.

”Budayawan-budayawan Madura ya terus bikin. Bahwa nanti akan berdampak, itu urusan Gusti Allah. Yang penting terus berkarya,” kata seniman yang sudah berkali-kali menjadi aktor film layar lebar itu.

Pria yang pernah mendalang keliling Yunani pada 2004 ini menyarankan masyarakat tidak menggantungkan pelestarian budaya pada pemerintah. Sebab, mereka terlalu sibuk untuk fokus mengembangkan budaya. ”Itu tidak bisa diserahkan ke government. Government sudah pusing sama pajak. Mikirin pajak, masak masih mikirin lagu. Jangan mengharapkan government,” sindir pria yang masuk dalam nominasi Most Wanted Male yang digelar MTV Asia 1999 ini.

Kuliner khas Madura juga berpotensi dimunculkan di kancah nasional. Tinggal mengolah menjadi jajanan yang mampu menarik minat. ”Misal soto. Rujak cingur Madura itu enak,” ujar penulis mingguan Wayang Durangpo Jawa Pos ini.

Kemudian wisata alam dan religi serta tarian Madura juga perlu mendapat perhatian masyarakat. Tinggal mengonsep semenarik mungkin tanpa menghilangkan kearifan lokal. ”Pulau Giliyang yang kaya oksigennya. Misal pembacaan puisi di situ. Orang datang dapat oksigen, dapat pembacaan puisi ala-ala Madura,” usulnya.

Pelukis ini juga menyarankan pameran lukisan di tempat-tempat wisata. Menurut dia, Indonesia ini negara maritim. Madura dihuni para pelaut. ”Kalau nggak, gimana bisa abantal omba’ asapo’ angen salanjangnga?” sembari melanjutkan nyanyiannya.

Pria keturunan orang Madura itu mengaku banyak lagu ciptaannya bernuansa Madura. Lagu tasawuf aku angkat pakai bahasa Madura. Judulnya Zendi. Dari kata se andhi’, yang punya.

Beberapa waktu mendatang, dia akan tampil di Prancis. Zendi akan ikut dibawakan. ”Pemanasannya 25 Januari di Jakarta. Forum Islam Dunia,” terang seniman yang pernah menggelar pameran tunggal Semar Nggambar Semar di Jogja Gallery Jogjakarta 2008 itu.

Sutradara beberapa film itu mengaku terdapat banyak konsonan pada basa Madura. Itu yang membedakan dengan lagu daerah lain. Maka dari itu, dia lebih sering menggunakan bahasa Madura pada lagu ciptaannya.

”Aku gak pakai bahasa Jawa untuk lagu tasawuf. Kalian tahu sendiri, D saja ada berapa. Badha baddhana, beddha’ beddha. Selain konsonan, hentakannya,” jelasnya.

(Seph – sisidunia.com)