Home » Hiburan » Miris, Ada Belasan Ribu Warga Surabaya Belum Punya Jamban

Miris, Ada Belasan Ribu Warga Surabaya Belum Punya Jamban



Jakarta – Anggota Komisi D DPRD Surabaya Reni Astuti mengungkapkan, jika sekitar 14.000 warga Kota Surabaya hingga saat ini tidak mempunyai kloset yang layak. Data ini dia peroleh dari Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya saat rapat bersama Komisi D beberapa waktu lalu.

Miris, Ada Belasan Ribu Warga Surabaya Belum Punya Jamban

Miris, Ada Belasan Ribu Warga Surabaya Belum Punya Jamban

Berangkat dari realita yang ada, di pengujung tahun 2017 ini Pemkot Surabaya akan terlebih dulu membangun 100 unit jamban bagi warga. Biaya tiap unit jamban dialokasikan Rp 3 juta dengan sumber pendanaan dari Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) tahun anggaran 2017.

Reni Pemkot menargetkan bakal mewujudkan kota yang sehat dan ke depan menjadikan seluruh warga memiliki jamban. Tidak lagi menjadikan sungai sebagai septic tank raksasa untuk menampung air limbah yang digelontorkan dari water closed (WC) warga.

“Tahap awal 100 unit jamban dulu, didanai APBD Perubahan 2017. Tahun 2018 pastinya akan ditambah jumlah unit jamban yang akan dibangun,” kata Reni, Senin (6/11/017).

Baca juga : Netizen Sindir Raffi Yang Promosikan Bisnis Kue Ayu Ting Ting

Politisi PKS DPRD Surabaya ini minta pemkot memverifikasi kembali data jumlah warga yang belum memiliki jamban, apakah angka 14 ribu itu sudah riil. Dalam melakukan verifikasi pemkot bisa menggandeng komunitas atau lembaga swadaya masyarakat (LSM) peduli lingkungan. Setelah verifikasi, tambah Reni, pemkot wajib melakukan pemetaan atas hasil verifikasi.

“Hasil reses di daerah pemilihan saya, di salah satu RW ada 85 warga tidak punya septic tank. WC punya namun sungai sebagai septic tank-nya,” ungkap dia.

Menurut Reni, keberadaan septic tank komunal (bersama), juga perlu diprhatikan pemkot. Dia mengapresiasi upaya pemkot yang langsung menindaklanjuti sekaligus memantapkan penghargaan kelas dunia yang diperoleh Kota Surabaya dengan banyak program, salah satunya jamban sehat.

Hanya, sebut Reni, ada sedikit permasalahan dalam penerapan program pembangunan jamban yang akan dilaksanakan. Yakni pemkot mengharuskan tanah lokasi pembangunan jamban harus hak milik atau sertifikat. “Padahal warga yang belum punya jamban rata-rata tinggal di daerah aliran sungai (DAS) atau bantaran sungai,” jelasnya.

Reni tidak ingin pelaksanaan program jamban sehat tidak lancar, bahkan terhambat karena keharusan tanah yang menjadi lokasi pembangunan harus hak milik. Dia juga berpesan agar pemkot perlu menentukan target program jamban sehat hingga keseluruhan warga memiliki jamban.

“Total berapa anggaran bersumber dari APBD yang harus dipersiapkan? Perlu berapa tahun anggaran? Bisa apa tidak perusahaan membantu melalui program corporate social responsibility (CSR),” kata Reni.

Terkait jamban, Intitut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mempunyai konsep jamban yang sehat. Karena itu dia menyarankan agar pemkot menggandeng ITS, termasuk soal septic tank komunal.

(Png – sisidunia.com)