Home » Sains » Rasa Takut dan Kualitas Tidur Ternyata Saling Berkaitan

Rasa Takut dan Kualitas Tidur Ternyata Saling Berkaitan



Jakarta – Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di Journal of Neuroscience. Rasa takut dan kualitas tidur seseorang ternyata saling berkaitan. Disini para peneliti membahas tentang tidur rapid eye movement (REM) dan hubungannya dengan psikologis seseorang.

Rasa Takut dan Kualitas Tidur Ternyata Saling Berkaitan

Rasa Takut dan Kualitas Tidur Ternyata Saling Berkaitan

Setelah tertidur selama 70 sampai 90 menit seseorang akan mengalamin tidur REM, tidur REM sendiri adalah tidur dengan gerak mata cepat. Selama fase ini, mata bergerak lebih cepat, nafas menjadi tidak teratur, dan aktivitas otak serta ritme detak jantung meningkat.

Nah, ternyata orang yang lebih banyak memiliki REM akan sedikit memiliki aktivitas di bidang otak yang terkait dengan ketakutan, sedangkan orang yang kurang tidur REM lebih sering mengalami ketakutan.

Tidur REM sendiri kata para peneliti dapat membantu menjaga tingkat ketakutan tetap rendah. Menurut mereka, aktivitas tidur REM mengubah bagaimana bagian otak tertentu berkomunikasi satu sama lain.

Selain rasa takut, penelitian ini juga digunakan untuk memprediksi bagaimana seseorang bereaksi dalam menghadapi trauma atau seberapa besar kemungkinan orang tersebut mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD).

“Penelitian ini adalah langkah awal yang sangat baik untuk memahami mekanisme ketahanan tubuh,” kata Anne Germain, profesor psikiatri dan psikologi dari University of Pittsburgh School of Medicine, Pennsylvania.

Dalam studi tersebut, pola tidur 17 mahasiswa di rumah selama lima sampai 13 hari diteliti oleh para peneliti. Hal ini untuk menetapkan pola tidur dasar subyek penelitian, termasuk pola tidur tingkat ringan, tingkat dalam, dan tidur REM.

Setelah itu, para partisipan kemudian diharuskan menjalani tes pengondisian ketakutan, di mana mereka ditunjukkan lampu merah, kuning atau biru yang telah terhubung dengan kejutan listrik. Sebagai contoh, bila kejutan listrik ringan selalu mengikuti lampu biru, para partisipan kemungkinan besar akan mengantisipasi dan merasa takut akan warna tersebut.

Selama tes, peneliti memantau aktivitas otak di amigdala (jaringan limfoid dalam faring atau dekat pangkal lidah), hipokampus (bagian dari otak besar yang terletak di lobus temporal), dan Ventromedial prefrontal contex (otak yang terkait dengan respon ketakutan).

Penelitian dilanjutkan dengan meminta peserta kembali tidur semalaman penuh di dalam laboratorium sebelum mengulang tes tersebut.

Temuan menunjukkan korelasi yang nyata antara lama tidur REM dengan besarnya reaksi ketakutan terhadap lampu berwarna. Semakin banyak tidur REM, respons ketakutan partisipan semakin tidak ekstrem.

Baca juga : Dapat Restu Dari Keluarga, Akankah Ariel Tatum Akan Menikah?

Temuan ini menunjukkan bahwa tidur REM memainkan peran kunci dalam membantu otak mempersiapkan diri dan menahan dampak dari trauma emosional. Para peneliti juga menemukan bukti bahwa kualitas tidur seseorang memiliki kaitan dengan kejadian atau tingkat keparahan kondisi psikologis, mulai dari PTSD sampai depresi.

Ke depannya, para peneliti berharap untuk bisa lebih memahami bagaimana tidur REM dan PTSD terhubung.

Sementara itu, Germain ingin melihat bagaimana respons seseorang terhadap trauma berubah-ubah berdasarkan lama waktu tidur REM setiap malam. Dan ia berpendapat bahwa riset ini akan menjadi lebih menarik bila waktu tidur yang diamati menjadi lebih lama.

Walaupun demikian, dia mengungkapkan bahwa hasil penelitian ini menjanjikan untuk para petugas kesehatan di lapangan maupun orang dengan PTSD. “Ini adalah contoh bagus tentang pentingnya tidur dalam menjaga kesehatan emosional yang sehat,” kata Germain.

(Png – sisidunia.com)