Home » News » Sungai di Pasuruan Dipenuhi Sampah Popok Bayi

Sungai di Pasuruan Dipenuhi Sampah Popok Bayi



Jakarta – Tim Forum Komunikasi Peduli Lingkungan (FKPL) dan Ecoton bersama Dinas Lingkungan Pasuruan membersihkan Sungai Kedunglarangan di Kelurahan Gempeng Kecamatan Bangil, Pasuruan.

Sungai di Pasuruan Dipenuhi Sampah Popok Bayi

Pembersian sungai di Pasuruan

Dalam kurun waktu dua jam, tim berhasil dievakuasi sampah 150 kilogram popok yang kemudian diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA) Kenep.

Baca juga : “Anaknya Mogok Sekolah Karena Ingin Smartphone, Bapak Ini Lakukan Hal Mengejutkan “

Christia Anggraeni, anggota FKPL Pasuruan, menyatakan, selain plastik yang mengapung di sungai, ternyata 70 persen sampah berupa popok bayi.

Dari riset yang dilakukan sejak 12 September 2017, ada empat sungai di Bangil yang dijadikan tempat buang popok.

Di antaranya Sungai Kedunglarangan, Sungai Beji, Sungai Kepulungan dan Sungai Gondanglegi.

“Dalam Undang-Undang Pengelolaan Sampah 18/2008, popok bayi seharusnya dikelola secara sanitary landfill. Namun di Pasuruan, pengelolaan sampah popok masih dilakukan secara landfill control atau bahkan opendumping,” ujar Christia.

Hal ini membahayakan karena sampah popok mengandung plastik, dioksin, gel absorban mengandung sodium poliakrilat yang menyebabkan kanker.

Pada beberapa negara sodium poliakrilat dilarang digunakan untuk popok bayi. Selain itu, popok bayi menggunakan senyawa ptalat untuk pewangi yang masuk kategori senyawa pengganggu hormon.

Komposisi plastik 20 persen plastik, 50 persen kapas yang berasal dari bubur kayu yang mengandung pemutih sisanya 30 persen sodium polikrilat.

Ada temuan terbaru, bahwa ikan di sungai mengonsumsi gel penyerap popok bayi sehingga banyak ikan yang mati karena lambungnya dipenuhi gel.

Kepala Bidang Pengolahan Sampah, Dinas Lingkungan Hidup kabupaten Pasuruan, Suprapto menyatakan, akan menyiapkan TPA utk penanganan khusus sampah popok.

“Saat ini, kami sedang menyiapkan TPA jenis control landfill. Ke depan kami akan membangun jenis TPA sanitary landfill,” ujar Suprapto.

Suprapto menyatakan, DLH akan mengembangkan sungai menjadi wahana wisata sehingga masyarakat turut jaga sungai.

Selain itu, akan didorong penggunaan popok kain yang bisa dipakai berulang kali sehingga mengurangi volume sampah. (Seph – sisidunia.com)