Home » News » WNI Mengaku Terbuai Janji Manis ISIS

WNI Mengaku Terbuai Janji Manis ISIS



Jakarta – Kengerian itu masih terekam jelas di wajah Heru. Dengan kedua matanya, Heru menyaksikan bagaimana mayat korban dari eksekusi ISIS diperlakukan secara sadis. Dia bercerita bahwa mayat yang dipenggal kepalanya oleh ISIS itu malah menjadi tontonan masyarakat.

Tentara Filipina Targetkan Usir ISIS Sebelum Ramadhan

Gambar ilustrasi

“Saya belum pernah lihat eksekusinya, tapi saya pernah lihat orang yang telah dieksekusi. Itu luar biasa, (sampai) takut. Ada menara jam, disenderin itu tubuhnya ke sana, kepalanya dibuat mainan sama anak-anak, ditendang-ditendang. Orang-orang pada melihat di situ, saya mendekat ke sana, Ya Allah orang mati aja digituin,” ujar Heru.
Heru adalah satu dari 18 WNI yang kembali ke Indonesia setelah berhasil keluar dari cengkeraman ISIS di Suriah. ISIS teramat jauh dari bayangannya tentang Islam. Kehidupan masyarakat di sana banyak dipenuhi oleh perkelahian dan kekejaman.
“Hampir seminggu dua atau tiga kali selalu terjadi perkelahian, berbagai penyebab, makanan, senggolan seperti preman begitu. Sehingga kami tidak bergaul di situ karena takut, mereka kasar,” tutur Heru.
Keterkejutan serupa juga dirasakan oleh Nurshadrina Khaira Dhania. Nur, sapaan akrab perempuan berusia 19 tahun itu, mengungkapkan asrama tempat tinggalnya sangat jauh dari kesan islami.
“Katanya kebersihan sebagian dari iman, cuman ya Allah, kotornya. Naudzubillah. (Penghuni) Pada berantem sampai mau lempar-lempar pisau, jauh sekali sama yang mereka (ISIS) katakan dan share di internet. Suka ngegosip dan memfitnah sesama akhwat muslimah di sana,” ungkap Nur.
Nur memiliki cerita panjang sebelum berhasil melarikan diri dari ISIS. Pada tahun 2015 lalu, berbekal dengan pengetahuannya tentang ISIS dari sebuah blog, Nur meyakinkan keluarganya untuk pindah dan menetap di wilayah ISIS di Raqqa, Suriah. Ia baru berumur 17 tahun waktu itu.
Janji-jani manis yang ia ceritakan membuat Nur berhasil meyakinkan keluarganya untuk pindah ke Raqqa. Namun, kenyataan jauh dari yang dibayangkan: Nur mendapati kehidupan di Raqqa tidak sesuai dengan yang dijanjikan.
“Mereka memberikan beberapa janji, misalnya, jika kita sebagai muslim memiliki utang yang besar dan tidak bisa membayar, maka ISIS yang akan melunasinya. Dan mengenai ongkos perjalanan yang kami habiskan dari Indonesia ke Raqqa, mereka pun akan menggantinya. Mereka akan membayar semua ongkos tersebut,” ujar Nur.
Ayah Nur, Dwi Djoko Wiwoho, mengatakan anak-anaknya menjadi buruan orang-orang ISIS untuk dinikahkan.
“Katanya di sana ada sekolah gratis, tetapi sampai di sana malah disuruh kawin. Banyak itu yang ngelamar, datang orang-orang dai’sy (ISIS) sampai anak saya yang paling kecil itu ditanya kapan haidnya, dibilang kasih tau ya kalau sudah haid,” kata Djoko.
Selain Nur, dua putri Djoko yang lain juga ikut menjadi korban tipu daya ISIS. Mereka adalah Syarafina Nailah dan Tarisha Aqqila Qanita.
“Pas aku masuk Suriah itu, sampai di asrama perempuannya, kelakuannya itu, Ya Allah, bisa kubilang lebih parah dari binatang karena binatang tidak mempunyai akal, manusia mempunyai akal tapi kelakuannya lebih parah dari binatang,” ujar Naila.
Dari 18 WNI yang berhasil pulang, satu di antaranya masih berusia remaja. Ia adalah Mohammad Raihan Rafisanjani. Laki-laki kelahiran Jakarta, 2 Februari 1999 itu menyebut kehidupan di Suriah sama sekali tidak kondusif dan tidak layak untuk dijadikan tempat tinggal.
“Kadang hari ini tidak ada pesawat (tempur), besoknya ada. Pagi ini tidak ada, sorenya ada yang di bom. Tidak kondusif, tidak bisa hidup aman seperti yang mereka janjikan,” sebut Raihan.
ISIS juga dengan mudahnya membunuh seseorang yang memiliki pemahaman berbeda, meskipun dia seorang muslim.
“Mereka itu gampang sekali memusyrikan seseorang, bila tidak sesuai dengan pemahaman, mereka dianggap murtad, kafir dan fasik,” ujar Djoko.
Hal senada diutarakan oleh WNI lain yang berhasil melarikan diri dari ISIS, Difansa Rachmani. Bagi Difansa, ISIS sama sekali tidak menghargai nyawa manusia.
“Nyawa manusia siapapun dia itu sangat berharga apalagi seorang muslim, ada diyat (denda), ada qisas (hukuman), tapi di ISIS semua murah harga nyawa. Mereka anggap yang di luar ISIS itu kafir, hanya mereka saja yang muslim, kalau sudah seperti itu main asal bunuh saja,” papar Difansa.
 
Difansa menuturkan bahwa ISIS hanya mengejar dunia, tidak ada satupun nilai-nilai Islam yang diajarkan kepadanya.
“Mereka hanya mengejar kekuasaan, harta, dan wanita,” tutur Difansa. Ia tak ragu bercerita tentang obsesi ISIS terhadap perempuan.
“Pada saat saya sampai, wanita di keluarga saya yang masih single banyak dikejar-kejar. Mereka menyebutnya sebagai jihad nikah. Orang-orang di sana itu menikah seperti lomba, habis menikah satu terus menikah kedua sampai keempat, cerai, terus menikah lagi. Itu difasilitasi oleh ISIS, jadi kalau ada orang menikahi gadis (malah) dapat uang,” jelas Difansa.
Berada dalam situasi yang jauh dari apa yang dibayangkan membuat Difansa beserta WNI lain hanya bisa menyesali keputusan mereka.
“Luar biasa penyesalannya, tapi kita tidak bisa mengembalikan waktu,” ujar Difansa.
Dia mengimbau kepada orang-orang agar jangan mau terperdaya bujuk rayu ISIS dan meyakini bahwa ISIS itu benar.
“Buat orang-orang yang belum masuk sana (ISIS) bersyukurlah. Save your time, save your money, save your life. Jangan sia-siakan hidup kita untuk mendapat kebohongan di ISIS, dan ISIS itu sebentar lagi sudah akan hancur, saya yakin Insya Allah mereka akan hancur karena ISIS itu bukan untuk menegakan kalimat Allah,” imbau Difansa. (seph – sisidunia.com)