Home » Hiburan » Marah Ternyata Juga Bisa Membuat Anda Bahagia

Marah Ternyata Juga Bisa Membuat Anda Bahagia



Jakarta – Orang yang paling bahagia ternyata bukanlah orang yang tak pernah menunjukkan rasa marahnya, ungkap sebuah temuan baru. Kebahagiaan juga tentang merasakan emosi lain, seperti kecewa atau marah, yang sama-sama berharga bagi kesehatan mental.

Marah Ternyata Juga Bisa Membuat Anda Bahagia

Gambar Ilustrasi

Sebuah penelitian terkini mengungkap bagaimana orang yang seringĀ marahatau meluapkan kebencian pada orang lain, cenderung lebih bahagia dibandingkan mereka yang memendamnya.

Baca Juga : Para Ahli Menyarankan Tidur Siang Pukul 15.00 WIB

Dilansir dari Suara, Menurut peneliti utama Dr Maya Tamir, dariĀ The Hebrew University of Jerusalem, kebahagiaan lebih dari sekadar merasakan kesenangan dan menghindari rasa sakit. Dari hasil temuannya, Tamir berujar bahwa ternyata orang lebih bahagia jika bisa merasakan emosi yang ingin dirasakan, meski emosi itu tidak menyenangkan.

Untuk mendapatkan temuan ini, ia meneliti lebih dari 2.300 mahasiswa dari Amerika Serikat, Brasil, Cina, Jerman, Ghana, Israel, Polandia dan Singapura tentang emosi yang ingin mereka luapkan dan rasakan.

Ia kemudian membandingkannya dengan bagaimana mereka menilai kebahagiaan secara keseluruhan. Sementara orang umumnya ingin mengalami emosi menyenangkan seperti kebahagiaan, sebagian besar responden malah memiliki kepuasan hidup terbesar ketika dapat merasakan emosi yang tidak menyenangkan saat diinginkannya. Misalnya, merasa marah saat ingin marah atau merasa benci saat ingin merasakan kebencian.

“Kebahagiaan adalah tentang memiliki pengalaman yang berarti dan berharga, termasuk emosi yang menurut Anda pantas dimiliki,” ujar Tamir dilansirĀ Sun.

StudiĀ tersebut juga menemukan bahwa 11 persen responden ingin merasakan emosi positif seperti cinta dan 10 persen lainnya ingin merasakan emosi negatif seperti kemarahan.

Tamir mengatakan bahwa penelitian hanya melihat kemarahan dan kebencian sebagai emosi negatif dan tidak mengeksplorasi emosi lainnya seperti rasa bersalah, malu, takut, sedih atau cemas. Ia berharap bisa menelitinya di masa depan.

(Seph – sisidunia.com)