Home » News » Anaknya Dipukul Penggaris Oleh Guru, Orang Tua Datangi Sekolah

Anaknya Dipukul Penggaris Oleh Guru, Orang Tua Datangi Sekolah



Balikpapan – Penganiayaan siswa terjadi lagi kali ini terjadi di SD 004, Margasari, Balikpapan Barat. Guru pria berinisial H melakukan pemukulan kepada muridnya berinisial P (10) yang duduk di kelas empat. Akibat kejadian ini, P sempat trauma dan enggan ke sekolah.

Anaknya Dipukul Penggaris Oleh Guru, Orang Tua Datangi Sekolah

Gamabar Ilustrasi

Kondisi ini membuat orang tuanya akhirnya datang meminta pertanggungjawaban pihak sekolah. “Kejadiannya dua minggu lalu. Tetapi, baru cerita tadi malam (23/8/2017). Dia katanya dipukul pakai penggaris sama gurunya. Jadi, takut ke sekolah,” ucap orangtua P, Cucun Feriyadi, kemarin (24/8/2017).

Baca Juga : Ancam Penumpang Dengan Foto Panas, Driver Taksi Online Diamankan Polisi

Cucun yang ingin bertemu oknum guru yang diduga melakukan penganiayaan terhadap anaknya, bertemu dengan kepala SD 004. Dilakukan proses klarifikasi kejadian. Mendatangkan juga pengawas dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Balikpapan yang datang ke lokasi usai mendapat kabar dari pihak sekolah.

“Benar ada laporan tindakan yang dilakukan salah satu guru ke muridnya. Orang tua murid yang bersangkutan lapor ke saya. Kejadiannya dua minggu lalu. Namun, saya harus dengar ceritanya dulu. Makanya saya masih tanya kepada guru dan murid-murid lain. Saya minta duduk (tenang) dulu,” ujar Kepala SD 004, Sri Widi Astuti.

Sementara itu, H yang ditemui menyebut jika perbuatannya merupakan salah satu bentuk mendisiplinkan P. Soalnya sebelum peristiwa pemukulan, P dinilai mengganggu suasana kelas saat dia membawakan mata pelajaran. P membuat keributan hingga dirinya kehilangan konsentrasi untuk mengajar.

“Saya mengajar. Selama itu ada yang membuat keributan. Ketika saya menghadap papan tulis, suara ribut terdengar. Pertama waktu saya menjelaskan, ada anak yang mukul meja lalu bunyikan botol minum. Setelah itu, kalau saya berhenti menjelaskan, berhenti juga bunyi itu, ketika saya menoleh, suara ribut hilang. Begitu terus,” sebut H.

H akhirnya tahu jika P yang membuat keributan. Dia lalu mengambil penggaris dan langsung memukul kepala P. Tetapi H meyakinkan jika pukulannya tidak keras. Sementara ada yang menyebut penggarisnya patah itu karena dihantamkan ke meja usai memukul kepala P.

“Waktu itu saya mengambil penggaris kayu panjang. Lalu, saya kasih begini kepalanya. Saya akui (pukul) kepalanya. Anak itu lalu menangis, enggak terima. Saya langsung memukul penggaris di atas meja. Penggaris itu patah. Saya pukul meja, karena dia menangis. Menggertak saja supaya dia diam,” papar H, sambil memperagakan adegan yang dilakukannya dua minggu lalu.

H menyebut sudah mewanti-wanti sejak awal. Agar murid di kelasnya menjaga ketenangan saat jam belajar dimulai. Dia menegaskan tidak memiliki niat buruk menyakiti P. “Saya paham orang tuanya tidak terima. Tetapi, saya enggak ada niat buruk. Hanya bentuk disiplin,” lanjutnya.

Terpisah, dua orang pengawas Disdikbud yang datang ke sekolah enggan berkomentar. Mereka bungkam saat ditanya hasil pemeriksaan yang diperoleh pihaknya. Bahkan saling tunjuk saat dimintai komentar. “Saya no comment, silakan tanya beliau (rekannya),” ujar seorang pengawas.

(seph – sisidunia.com)