Home » Gaya Hidup » Bocah Ini Tak Bisa Tidur Jika Tak Ditemani Oleh Anjingnya

Bocah Ini Tak Bisa Tidur Jika Tak Ditemani Oleh Anjingnya



Jakarta – Kelainan spektrum autisme itu yang dialami oleh seorang bocah bernama Tupper Dunlop seorang anak yang tinggal di Winnipeg, Kanada. Selain sulit berkomunikasi secara verbal Tupper juga tidak akan melakukan kontak mata dan tidak akan menanggapi saat namanya jika dipanggil.

Bocah Ini Tak Bisa Tidur Jika Tak Ditemani Oleh Anjingnya

Tupper Dunlop

Tupper hanya memejamkan mata 20 sampai 45 menit. Jadi totalnya dalam sehari dia hanya tidur 3 sampai 6 jam. Di waktu tidurnya, tiba-tiba ia bisa saja menangis, menjerit, melempar benda lalu berbalik, dan tak mampu mengungkapkan kesedihan yang dialaminya.

Baca Juga : Ada Adegan Ciuman di Shaun The Sheep, KPI Berikan Teguran

Diagnosis spektrum autisme disampaikan dokter saat Tupper berusia dua tahun. Kapan pun ia tertidur, selalu dihantui mimpi buruk yang membuatnya berteriak dan terbangun dari tidurnya. Ini adalah momen terburuk Tupper. Tapi sekarang kondisinya lebih baik berkat teman berbulunya, seekor anjing bernama Lego.

Lego adalah jenis anjing retriever yang terlatih khusus dan telah diajari membantu anak dengan autisme. “Ide tentang layanan anjing untuk Tupper berasal dari kecintaannya pada hewan,” ungkap Nancy Dunlop, sang ibu, kepada CBS News.

Lego sendiri telah dilatih dari kecil oleh MSAR – Service Dogs. Perusahaan berbasis di Manitoba ini bekerja dengan keluarga yang membutuhkan pengembangan anjing untuk anak yang berkebutuhan khusus, seperti autisme, serta memberikan dukungan terus-menerus.

“Kami mempunyai teman yang datang bersama anjingnya dan Tupper seperti terikat dengannya. Ia banyak bermain dengannya dan Tupper terlihat sangat bersemangat dan senang. Ia tertawa dan sesekali memekik,” tutur Nancy.

“Hal ini memperkuat fakta bahwa seekor binatang dapat menjadi pendukung yang bagus untuk Tupper dan mendorongnya untuk berhubungan dengan orang lain,” imbuh Nancy.

Kini, Tupper lebih tenang, mampu berkomunikasi secara verbal dan bisa melakukan hal-hal biasa seperti jalan-jalan bersama keluarganya. Bahkan Tupper bisa lebih tenang tidur sepanjang malam tanpa banyak rewel seperti sebelumnya, setelah kehadiran Lego.

Nancy mengatakan kepada Inside Edition bahwa ia sangat terbantu ketika Tupper merasakan kehadiran Lego secara fisik. Hal itu membuat Tupper terlihat stabil. Selain itu, kontak fisik membantu meningkatkan zat kimia otak seperti serotonin yang membantu Tupper merasa damai dan tidur lebih nyenyak.

Sekarang, ketika mimpi buruk menghampiri Tupper, Lego langsung melangkah ke tempatnya dan memastikan bahwa Tupper dalam keadaan baik. Dengan hadirnya Lego, orang tua Tupper tidak perlu sering-sering bangun di malam hari akibat mimpi buruk yang dialami putranya.

Tupper dan Lego semakin dekat tiap harinya. Nggak hanya melindungi Tupper ketika tertidur tapi Lego juga menenangkannya ketika Tupper merasa tertekan di siang hari

Dilansir Huffingtonpost.com peneliti dan penulis studi Gretchen Carlisle dari Pusat Penelitian Interaksi Manusia-Hewan di MU’s College of Veterinary Medicine menunjukkan dalam sebuah rilis bahwa anak-anak dengan gangguan spektrum autisme sering merasa sulit untuk membentuk persahabatan dengan orang lain. Tapi mungkin beda halnya dengan menjalin persahabatan dengan binatang.

“Anak-anak dengan autisme dapat memperoleh manfaat dari berinteraksi dengan anjing, yang dapat memberikan cinta dan persahabatan tanpa syarat dan tidak menghakimi anak-anak,” ujar peneliti.

Dalam studi yang dipublikasikan di Journal of Pediatric Nursing tersebut juga mensurvei orang tua dengan anak-anak yang mengalami autisme. Hampir dua pertiga keluarga memiliki seekor anjing, dari jumlah tersebut, 94 persen mengatakan bahwa anak mereka terikat kuat dengan hewan peliharaannya.

Bahkan di keluarga tanpa anjing, 7 dari 10 orang tua mengatakan bahwa anak mereka menikmati interaksi dengan anjing.

(seph – sisidunia.com)