Home » News » Moskow dan Teheran Kerjasama Demi Memperkuat Militer dan Teknologi

Moskow dan Teheran Kerjasama Demi Memperkuat Militer dan Teknologi



Jakarta – Untuk memperkuat kerja sama militer dan teknologi Moskow dan Teheran melakukan kerjasama. Menyusul dijatuhkannya sanksi terhadap kedua negara oleh Amerika Serikat Wakil Perdana Menteri Rusia langsung mengunjungi Iran.

Moskow dan Teheran Kerjasama Demi Memperkuat Militer dan Teknologi

Gambar Ilustrasi

Wakil Perdana Menteri Rusia, Dmitry Rogozin, telah bertemu dengan pejabat pemerintah Iran dalam kunjungannya ke negara tersebut pada hari Sabtu. Rogozin memimpin delegasi Rusia yang diundang ke upacara pelantikan Presiden Iran Hassan Rouhani, yang terpilih kembali pada bulan Mei lalu.

Baca Juga : Pecah Tangis Ayah Saat Sang Bayi Yang tersimpan Di Lemari Pendingin Di Kubur

Rogozin mengadakan pembicaraan dengan Menteri Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Hossein Dehqan. Kedua pejabat tersebut dilaporkan membahas pasokan baru senjata Rusia ke Iran. Mereka menyetujui pelaksanaan kesepakatan yang meningkatkan kerja sama militer dan teknologi, seperti dikutip Russia Today dari kantor berita Fars, Minggu (6/8/2017).

Langkah tersebut dilakukan hanya tiga hari setelah keputusan AS untuk memberlakukan babak baru sanksi terhadap Rusia dan Iran, bersama dengan Korea Utara (Korut). Langkah tersebut memicu respons yang kuat dari semua subyek pembatasan ekonomi yang baru diperkenalkan, serta kekhawatiran dari sekutu AS, Eropa.

Perdana Menteri Rusia, Dmitry Medvedev menganggap sanksi tersebut sebuah perang ekonomi dengan Rusia. Ia juga menyebut sanksi tersebut sebuah kekalahan yang memalukan bagi Presiden AS Donald Trump, yang tidak memberi ruang untuk memperbaiki hubungan bilateral.

Sementara Iran mengecam langkah tersebut pelanggaran kesepakatan nuklir 2015. Teheran berjanji untuk menunjukkan reaksi yang tepat dan proporsional terhadap tindakan bermusuhan AS. Teheran juga menyalahkan Washington karena berusaha mengekang investasi asing dalam ekonomi Iran.

Sedangkan beberapa pejabat pemerintah Eropa mengatakan bahwa sanksi AS akan merugikan kepentingan nasional mereka. Pasalnya tindakan pembatasan tersebut akan menargetkan perusahaan-perusahaan Eropa yang mengambil bagian dalam proyek energi Uni Eropa-Rusia, termasuk pipa Nordstream II.
(seph – sisidunia.com)