Home » News » Festival Kebudayaan di Purwakarta Dapat Kritikan dari FPI

Festival Kebudayaan di Purwakarta Dapat Kritikan dari FPI



Purwakarta –  Front Pembela Islam (FPI) berikan kritikan pedas terkait gelaran festival kebudayaan pada hari jadi ke-49 Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat pada Jumat malam, (4/8/2017) .

Festival Kebudayaan di Purwakarta Dapat Kritikan dari FPI

Gambar Ilustrasi

Bahkan, Kabupaten Purwakarta di masa kepemimpinan Dedi Mulyadi dinilai selalu menunjukkan aktivitas yang bertentangan dengan agama. FPI menyayangkan, aktivitas kebudayaan lebih rutin dijalankan ketimbang aktivitas keagamaan.

“Pengajian manfaatnya besar, menjadikan yang sebelumnya edan menjadi waras. Tapi kalau festival Jurig, bikin gelo (gila),” kata Ketua FPI Purwakarta KH Muhammad Sahid Joban dalam acara Tabligh Akbar di Pasar Rebo Purwakarta, Jumat malam, (4/8/2017).

Pihaknya mewanti-wanti, jika kebiasaan aktivitas budaya yang bertentangan agama terus dijalankan, bisa berdampak negatif. “Agama dulu, kemudian budaya dibenahi. Jangan sebaliknya. Agama yang menimbang budaya, bukan budaya menimbang agama,” ujarnya.

Dalam ceramahnya, aktivitas kebudayaan yang bertentangan agama kerap dirutinkan dibandingkan pengajian. Bahkan, Pemkab Purwakarta kerap mempersulit izin pengajian di tempat umum.

“Jangan pernah ikut-ikutan acara Jurig (festival Bebegig). Apalagi pengajian dipersulit, berbeda dengan arak-arakan kereta kencana yang sangat mudah perizinannya. Kita tidak akan mundur melawan kemungkaran,” katanya.

Bahkan, FPI berharap tujuan politik Dedi Mulyadi yang ingin maju menjadi calon gubernur di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Barat 2018, tidak terpilih.

“Supaya tidak terpilih jadi gubernur Jawa Barat. Dedi Mulyadi jangan sampai jadi Gubernur Jawa Barat. Jangan menganggap umat Islam Purwakarta lemah dengan kebersamaan. Jangan ikut-ikutan acara jurig, kita diatur-atur, pengajian dipersulit. Giliran ngarak bebegig, kereta kencana diizinkan,” katanya.

Lanjut Sahid, dalam ceramahnya mengingatkan masyarakat agar jangan tertipu jika ingin memilih pemimpin daerah.

Kade ulah katipu (jangan sampai ketipu), kejebak di sumur kedua kali. Jangan asal-asalan, kalau milih asal-asalan, jadi gini Purwakarta, jadi kota setan,” katanya.

(Seph – sisidunia.com)