Home » News » Nyonya Meneer, Jamu Legendaris Pailit Terancam Gulung Tikar

Nyonya Meneer, Jamu Legendaris Pailit Terancam Gulung Tikar



Semarang – Pengadilan Niaga Semarang menyatakan produsen jamu legendaris Nyonya Meener pailit. PT. Nyonya Meneer pailit dikarenakan tak mampu membayar hutang pada salah satu kreditur.

Nyonya Meneer, Jamu Legendaris Pailit Terancam Gulung Tikar

Ilustrasi

Wismonoto salah satu anggota majelis hakim PN Niaga Semarang menyatakan pada Jumat 4/8/2017 bahwa perjanjian anatara salah satu kreditur dengan PT. Nyonya Meneer dibatalkan. Perjanjian tersebut merupakan pernjanjian damai yang dibuat pada tahun 2015 lalu. Pengadilan mengabulkan gugatatan tersebut sebab pihak kreditur merasa tidak puas.
Pailitnya PT. Nyonya Meneer disampaikan dalam sidang pada hari Kamis 3/8/2017. Dalam sidang tersebut Nani Indrawati Ketua Pengadilan Negeri Semarang yang memimpin jalannya persidangan.

Dalam sidang tersebut hakim sepakat Hendrianto Bambang Santoso salah satu kreditur yang menggugat memenangkan gugatannya.

Seluruh amar permohonan dikabulkan oleh hakim. Hakim juga menyatakan perjanjian damai tersbut di batlakan, dan perusahaan jamu legendaris tersebut dinyatakan pailit.

Wismonoto juga menyampaikan bahwa pihak penggugat melayangkan gugatannya dikarenakan kreditur tersbut tidak puasa dengan proses pembayaran hutang yang telah disepakati bersama dengan pihak Nyonya Meneer. Pabrik jamu tersebut tidak menunaikan kewajiban dalam batas waktu yang telah ditentukan. Karena alasan itulah pihak kreditur meminta perusahaan jamu tersebut dipailitkan.

Dilain pihak kuasa hukum dari PT. Nonya Meneermasih belum menentukan sikap atas putusan tersebut.

Pada tanggal 8 Juni 2015 lalu, PN Semarang telah menegsahkan proposal perdamaian yang di ajukan oleh PT. Nyonya Meneer dalam membayar hutang ke semua kerditurnya.Kemudian dalam sidang Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) proposal perdamain itu disahkan.

Lihat Juga: Kasus Penembakan Rumah Warga Sragen Tengah Dalam Penyelidikan Polisi

Dalam amar putusannya, Dwiarso Budi Santiarto hakim yang meminpin jalannya persidangan pada saat itu, meneruskan upaya yang dilakukan oleh para pihak baik debitor, kreditor, tim pengurus, maupun hakim pengawas.

Akhirnya seluruh pihak yang pada saat itu hadir bersepakat terkait pembayaran hutang yang harus di bayarkan pihak debitur ke pada 35 kreditor.

Pabrik jamu legendaris tersebut berkewajiban harus membayar semua hutangnya kepada semua debitur.
(Ciprobo-sisidunia.com)