Home » News » 16 Tahun Perangi Taliban, Trump Pecat Komandan AS di Afghanistan

16 Tahun Perangi Taliban, Trump Pecat Komandan AS di Afghanistan



Jakarta – Penundaan penerapan sejumlah strategi Gedung Putih di Asia Selatan disebabkan karena Presiden Donald Trump mengkhawatirkan kebuntuan Amerika Serikat dalam perang di Afghanistan .

16 Tahun Perangi Taliban, Trump Pecat Komandan AS di Afghanistan

Presiden Donald Trump

 

Seorang perwira milier AS bahkan mengatakan, kebuntuan misi Washington di negara itu turut memperbesar pertimbangan Trump untuk memecat komandan militernya di Afghanistan.

Baca Juga : Wow, Gambar Sederhana Trump Ini Laku Rp 388 Juta

Dalam pertemuan di Gedung Putih pada 19 Juli lalu, Trump menuntut penasihat keamanan nasionalnya memberikan informasi lebih banyak lagi soal mandeknya tentara AS melawan Taliban dan kelompok militan lainnya di Afghanistan, yang telah berlangsung selama 16 tahun terakhir.

Imbasnya, Trump pun meminta Menteri Pertahanan James Mattis dan Kepala Staf Gabungan Militer Jenderal Joseph Dunford untuk mempertimbangkan pemecatan Jenderal Angkatan Darat John Nicholson, komandan pasukan AS di Afghanistan.

Saat menggelar rapat di ruang darurat Gedung Putih, Trump meminta semua anggota kabinet keamanan memberikan keterangan lebih mengenai keadaan terkini di tempat Amerika Serikat menghabiskan 16 tahun perang melawan Taliban tanpa tanda kemenangan.

Rapat tersebut memanas saat Trump meminta Menteri Pertahanan Amerika Serikat, James Mattis, dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Amerika Serikat, Joseph Dunford, memecat Jenderal John Nicholsin, panglima pasukan Amerika Serikat di Afghanistan karena tidak berhasil menang perang.

“Kita belum juga mencapai kemenangan,” kata Trump kepada dua orang tersebut, sebagaimana dikutip dari sejumlah sumber, yang tidak ingin jati dirinya terungkap.

Saat rapat itu selesai, pejabat setara menteri koordinator politik, Steve Bannon, terlibat adu mulut dengan pejabat setara menteri koordinator keamanan HR McMaster terkait arah kebijakan Amerika Serikat.

Beberapa pejabat meninggalkan rapat itu dalam kondisi terkejut oleh keluhan presiden bahwa militer telah membiarkan Amerika Serikat kalah dalam peperangan.

Mattis, McMaster, dan beberapa pejabat tinggi lainnya kini berusaha menjawab keraguan Trump dalam cara yang bisa membuat sang presiden pemarah untuk menyetujui strategi baru di Asia Selatan, kata sumber-sumber tersebut.

Gedung Putih sendiri tidak berkomentar terhadap laporan mengenai pertemuan tersebut. Rapat lain bersama para pejabat tinggi dijadwalkan akan digelar pada Kamis.

Trump sendiri pada awal tahun memberi Mattis kewenangan untuk mengirim pasukan militer Amerika Serikat sesuai dengan kebutuhan. Namun, rencana menteri pertahanan tersebut untuk menambah 4.000 tentara menjadi 8.400 untuk bertugas di Afghanistan, kini harus tertahan karena keluhan Trump.

“Semuanya bergantung pada persetujuan terkait strategi baru,” kata seorang pejabat pemerintahan mengenai pengiriman pasukan tambahan.

Trump sudah sejak lama skeptis terhadap keterlibatan Amerika Serikat dalam peperangan di negara asing dan menyatakan tidak tertarik untuk mengirim pasukan militer tanpa rencana spesifik mengenai apa peran mereka dan untuk berapa lama.

Sejumlah pejabat mengatakan bahwa Trump meminta agar Afghanistan juga turut menanggung biaya satu trilyun dolar AS, dalam bentuk kekayaan tambang, sebagai bayaran atas bantuan keamanan bagi pemerintah Afghanistan.

Namun demikian, tanpa jaminan keamanan di seluruh bagian negara, tidak mungkin bagi Afghanistan untuk mengekspor kekayaan tambang tersebut ke pasar internasional, kecuali ke Iran.

Trump juga mengeluh karena menganggap China mengambil lebih banyak dari pertambangan di Afghanistan, kata sumber itu.

(seph – sisidunia.com)