Home » News » Unik, Sekolah Muhammadiyah di Serui Punya Banyak Siswa Kristen

Unik, Sekolah Muhammadiyah di Serui Punya Banyak Siswa Kristen



Serui – Tidak seperti sekolah Muhammadiyah yang lainnya inilah yang menjadi keunikan untuk  SMK Muhammadiyah Serui, Provinsi Papua, yang muridnya 92% beragama Kristen. Hal tersebut bukan hal baru bagi Muhammadiyah menurut Sekjen Muhammadiyah Abdul Mu’ti.

 Unik, Sekolah Muhammadiyah di Serui Punya Banyak Siswa Kristen

Gambar Dari Dokumentasi www.sangpencerah.id

Mu’ti mengatakan SMK Muhammadiyah Serui sejak pertama berdiri pada 2005 memang lebih banyak diisi oleh murid beragama Kristen. Tak hanya di Serui, di beberapa wilayah juga ada beberapa sekolah dan universitas Muhammadiyah yang sebagian besar muridnya beragama Kristen.

“Itu bukan sesuatu yang baru. Dari dulu murid yang beragama Kristen memang banyak. Di beberapa daerah, seperti Papua, NTT, Kalbar, sebagian besar (muridnya) beragama Nasrani,” ujar Mu’ti seperti yang dilansir www.sangpencerah.id, Senin (31/7/2017).

Untuk mengakomodasi para murid yang beragama Kristen, lanjut Mu’ti, pihak sekolah menyediakan guru agama Kristen untuk membimbing para murid. Guru tersebut berasal dari guru tetap Muhammadiyah.

“Dan selama belajar, mereka mendapat pelajaran agama Kristen dari guru. Gurunya itu guru tetap di Muhammadiyah,” ucapnya.

Mu’ti juga menyebut tidak pernah ada masalah antara murid beragama Islam dan murid beragama Kristen di sekolah Muhammadiyah. Malah, lanjutnya, guru-guru mengajak para warga agar anak-anak mereka mau bersekolah di sekolah Muhammadiyah.

“Nggak pernah ada masalah sama sekali. Malah guru agamanya datang ke daerah untuk mengajak belajar di Muhammadiyah,” ujarnya.

Mu’ti juga menjelaskan mengapa banyak warga di pedalaman yang memilih menyekolahkan anak mereka di sekolah Muhammadiyah. Setidaknya ada empat alasan yang menurut Mu’ti menjadi alasannya.

“Memang sebagian besar karena mutu. Sekolah Muhammadiyah dianggap lebih baik. Kedua, karena biaya bisa dijangkau. Ketiga, pembinaan ekstrakurikuler yang bagus,” papar Mu’ti.

“Keempat, jaringan. Misalnya mereka ingin melanjutkan sekolah ke Jawa, itu sering kali kalau di universitas ada prioritas dari perguruan tinggi untuk murid dari Indonesia timur,” tutupnya.

(seph – sisdunia.com)