Home » News » Bunuh Diri Politik Trump Drama Baru Hak Veto Amerika – Rusia

Bunuh Diri Politik Trump Drama Baru Hak Veto Amerika – Rusia



Jakarta – Pada hari Jumat 28/7/2017, Gedung Putih merilis pengumuman terkait Presiden Trump yang telah meninjau versi final undang-undang sanksi Rusia dan berencana menandatanganinya. Jelas saja hal tersebut membuat Rusia berang dan langsung melakukan respon.

Bunuh Diri Politik Trump Drama Baru Hak Veto Amerika – Rusia

Presiden Donald Trump dan Presiden Vladimir Putin

Dihari yang sama, Kementrian Luar Negeri Rusia mengumumkan bahwa Amerika Serikat diminta mengurangi jumlah diplomatnya. Ini merupakan bentuk respon Rusia atas pengumuman yang dikeluarkan oleh Gedung Putih.

Tetapi ternyata hanya berselang dua hari, Presiden Rusia Vladimir Putin mengubah pernyataan itu. Ia menyatakan 755 orang diplomat AS yang bekerja di Kedutaan Besar di Moskow serta di Konsulat Jenderal di St.Petersburg, Yekaterinburg dan Vladivostok, harus hengkang dari Kremlin sebelum 1 september.

Ini merupakan langkah paling agresif bagi Moskow terhadap Washington, sejak berakhirnya Perang Dingin pada era 90an.

Dalam keputusan tersebut semakin menjauhkan janji Trump pada saat kampanyenya, yaitu memperbaiki hubungan AS dengan Rusia.

Putin dengan tegas mengatakan “755 orang dari 1000 lebih staf Kedutaan Besar dan Konsulat AS, harus menghentikan aktivitas mereka di Rusia”, dilansir dalam wawancaranya dengan stasiun televisi pemerintah, Minggu 30/7/2017 yang dikutip oleh CNN. Angka tersebut, ujar Putin termasuk para diplomat dan karyawan administratif.

Bisa diketahui bahwa di lain sisi sebenarnya Trump masih memiliki hak veto dan bisa menolak menandatangami undang-undang tersebut. Tetapi, langkah tersebut dianggap langkah bunuh diri politik oleh negara adidaya ini.

Namun jika Trump menolak menandatangani sanksi, itu malah akan memperdalam kecurigaan masyarakat akan konklusinya dengan pihak Rusia pada saat kampanye tahun lalu. Selain itu juga, Kongres AS juga dapat dengan cepat membatalkan hak veto yang dimiliki oleh presiden dngan menggunkan penolakan publik. Yang mana penolakan ini akan menggarisbawahi ketidakmampuan pemimpin negara dalam mengendalikan situasi yang ada.

Jika Trump menandatangani sanksi, itu juga malah bisa memperburuk konfrontasi dengan Rusia. Dimana sekaligus juga dapat mementahkan upaya AS dalam memperbaiki hubungannya dengan Rusia dan membuat kedua negara sulit membalikkan situasi.

Penetapan sanksi hanya akan membuat Rusia “melawan” AS di panggung Internasional, menurut mantan Direktur Analisis Rusia di CIA George Beebe. Beebe , mengatakan “Dia (Trump) ada dalam situasi kalah di sini.’ “Tidak ada pilihan yang bagus baginya dalam maslah ini.”

Hal senada juga di ungkapkan oleh Wakil Presiden Wilson Center Aaron David Miller.
“Tidak ada rasionaalisasi ataupun alsan untuk melakukan veto. Bagi Trump, itu akan menjadi bunuh diri politik” Ujar Miller. “ Hanya sedikit ruang gerak yang rasional ataunpun politis bagi Trump untuk melakukan Veto.” Miller menekankan bahwa tudingan yang di arahkan kepada AS tentang kolusi kampanye dan aksi Putin atas Ukraina dan Suriah, serta keputusannya dalam mengusir diplomat AS.itu semua saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan.

Lihat Juga: Seorang Maling Dipergoki Warga Saat Sedang Beraksi

Perwakilan Partai Republik dari Oklahoma, Tom Cole juga mengatakan hal serupa yakni, merupakan langkahh yang tidak bijaksana dan bisa digagalkan negara jika Trump tidak melakukan hak veto terhadap Rusia. Jika hal itu sampai terjadi bisa dipastikan langkah Trump akan di matikan oleh partai Republik maupun Demokrat.

Cole juga menambahkan, walaupun presiden memiliki hak veto, itu tidak akan dapat merubah suara kongres. Dalam undang – undang tersebut juga terdapat sanksi terbaru bagi Korea Utara dan Iran, selain Rusia yang harus di setujui oleh Presiden AS.

Bisa dikatakan tindakan yang dilakukan Putin menendang keluar ratusan diplomat AS dipandang sebagai upaya balas dendam yang tertunda. Mengingat mantan presiden AS Barack Obama pernah memulangkan 35 diplomat Rusia pada bulan Desember dan menyusul tudingan ikut campur Kremlin dalam pemilu presiden.

Saat Trump memenangkan pemilu, Kremlin menyambuut dengan gembira dan menyatakan era baru bagi Rusia – AS. Moskow dapat diperkirakan diberi jalan saat meminta keringanan sanksi yang dijatuhkan AS dan Unisoviet atas tindakannya mencaplok Crimea dan Ukraina. Namun nyatanya yang terjadi malah kemundurnan saat Trump berkuasa.
(Ciprobo-sisidunia.com)