Home » News » Peringatan Hari Kemenagan Korut Diwarnai Tangisan Dan Hujan Badai

Peringatan Hari Kemenagan Korut Diwarnai Tangisan Dan Hujan Badai



Pyongyang – Tak peduli seberapa besar badai, warga korea utara teteap membungkukan badan mengarah ke makam Kim il-sung untuk sebuah penghormatan di Istana Kumsusan, Pyongyang.

Peringatan Hari Kemenagan Korut Diwarnai Tangisan Dan Hujan Badai

Warga yang berdatangan ke Istana Kumsusan

Dikutip dari laman Channel News Asia, Jumat (28/7/2017), penghormatan ini diberikan oleh warga Korut guna memperingati hari berakhirnya Perang Korea, atau yang dikenal dengan Victory Day (hari kemenangan).

Di dalam Istana Kumsusan itulah terdapat makam Kim Il-sung dan putranya Kim Jong-il. Makam tersebut tersimpan di ruang marmer yang dipenuhi ribuan lilin yang menyala.

Tubuh mantan diktator tersebut sengaja dibalsem dan dibiarkan beristirahat di dalam peti mati yang terbuat dari kaca sambil disinari cahaya-cahaya redup. Sementara penghormatan terus dihantarkan oleh warganya, para tentara terus berjaga di setiap sudut istana sambil mengatur arus pengunjung yang datang.

“Hati saya tergerak dan menangis tersedu-sedu saat menghantarkan doa kepada mantan pemimpin kami,” ujar Ri Ri-gyong, pejabat keuangan Korea Utara.

Sontak, suara Ri-gyong bergetar karena tak mampu menahan emosi.

“Saya selalu merindukan mereka.”

Meskipun meninggal pada tahun 1994, Kim Il-sung tetap menjadi pemimpin negara abadi bagi warganya. Sebab dari tangannyalah, Korut mulai dikenal banyak warga internasional.

Sementara itu putranya, Kim Jong-il meninggal dunia pada tahun 2011.

Para siswa membersihkan jalanan di depan patung pemimpin Korea Utara Kim Il Sung dan Kim Jong-Il di bukit Mansu saat negara tersebut menandai ‘Victory Day’ di Pyongyang (AFP/Ed JONES)

Salah satu warga Pyongyang, Kim Un-sil (40) membawa anak laki-lakinya yang berusia tujuh tahun ke Mansu Hill di pusat kota, di mana patung-patung raksasa kedua pria itu melihat ke arah pusat kota.

“Saya hanya ingin memberi tahu anak saya dan para generasi baru bahwa sejarah Korut adalah sebuah kemenangan,” ujar Un-sil.

Sementara itu, ada spekulasi yang meluas di Amerika Serikat dan kalangan intelijen Korea Selatan yang mengatakan, Korut akan menandai ‘hari kemenangannya’ dengan peluncuran rudal yang baru.

Menyusul uji coba pertama yang dinilai berhasil pada awal bulan lalu, para ahli menilai, rudal balistik antarbenua yang sebelumnya mereka luncurkan mampu mencapai Alaska atau Hawai.

Meski begitu, belum ada tanda-tanda uji coba rudal yang kembali dilakukan oleh Korea Utara.

“Negara kami selalu menang karena kita memiliki pemimpin tersebar di dunia,” kata Hong Yong-dok yang tengah bersama cucunya di Istana Kumsusan.

Yong-dok mengatakan, selama ratusan tahun warga Korut menderita di tangan imperalisme Amerika Serikat.

“Orang tua saya terbunuh oleh AS saat perang terjadi di Korea. Maka dari itu, kami akan mengajari anak-anak kami untuk membalas perbuatan keji imperialisme AS,” tambahnya.

27 Juli 1953 menandai penandatanganan gencatan senjata antara China, Korea Utara, dan pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang didukung AS yang telah berseteru satu sama lain selama tiga tahun (AFP/Ed JONES)

Pada 27 Juli 1953, terjadi penandatanganan gencatan senjata antara China, Korea Utara dan pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Kesepakatan itu dapat terwujud setelah perundingan yang mereka lakukan sering berujung pada kegagalan selama tiga tahun. Meski begitu, Korut menganggap negaranya telah menang atas segala hal tersebut dan menyebutnya sebagai kemerdekaan. Sejak saat itu pula, wilayah Korea terbagi dua, yaitu Utara dan Selatan.

Korea Selatan tumbuh menjadi negara demokratis dan bangkit dari keterpurukan yang kemudian menjadi negara dengan perekonomian terbesar keempat di Asia.

Kini, di bawah dinasti keluarga Kim, Korut memasuki generasi ketiga di bawah kepemimpinan Kim Jong-un. Korut juga tengah mengembangkan senjata nuklir yang mampu melintasi wilayah antarbenua — sebuah pencapaian luar biasa dalam sistem persenjataan yang mampu mengancam Amerika Serikat.

Biasanya, hari-hari besar seperti ini selalu ditandai dengan aksi peluncuran rudal dan sejenisnya. Meski belum ada tanda-tanda aksi tersebut di hari peringatan yang mereka anggap sebagai kemerdekaan Korea Utara. (bens – sisidunia.com)