Home » News » Tas Pembawa Debu Bulan Neil Amstrong Terjual Seharga Rp 24 Miliar

Tas Pembawa Debu Bulan Neil Amstrong Terjual Seharga Rp 24 Miliar



New York – Sebuah tas yang dipakai oleh astronot Amerika Serikat bernama Neil Amstrong untuk membawa sampel pertama debu bulan ke bumi dijual kepada penawar anonim seharga USD 1,8 juta atau sekira Rp 24 miliar di sebuah lelang di New York pada Kamis (20/7/2017). Penjualan tersebut sekaligus menandai ulang tahun ke-48 pendaratan pertama di bulan.

Tas Pembawa Debu Bulan Neil Amstrong Terjual Seharga Rp 24 Miliar

Tas Neill Amstrong pembawa sampel perama debu bulan

Tas yang selama bertahun-tahun tidak teridentifikasi itu berada di sebuah kotak di Johnson Space Center di Houston. Menurut juru lelang Sotheby, tas tersebut dibeli oleh orang yang tidak ingin disebutkan namanya secara terbuka. Orang yang membeli tas itu mengajukan bid penawaran melalui telefon.

Juru lelang mengatakan bahwa tas tersebut diharapkan dapat terjual antara USD2 juta hingga USD4 juta.

Tas yang berukuran 30 x 22 cm atau sekira 8,5 inci tersebut memiliki label di tasnya dengan tulisan ‘Lunar Sample Return’. Tidak diketahui lebih jelas mengenai tas tersebut selama beberapa dekade ke belakang sejak Neil Armstrong dan awak Apollo 11 kembali ke bumi pada Juli 1969.

Setelah menghilang dari Johnson Centre, barang itu diketemukan di garasi manajer sebuah museum Kansas, Max Ary, yang dihukum karena pencuriannya pada 2014, menurut catatan pengadilan.

Tas tersebut disita oleh US Marshals Service dan memasangnya untuk dilelang sebanyak tiga kali, namun tas tersebut tidak menarik para penawar, sampai akhirnya dibeli pada 2015 dengan harga USD995 oleh pengacara Chicago, Nancy Lee Carlson.

Dia mengirim tas itu ke NASA untuk mendapatkan autentikasi, dan saat tes menunjukkan bahwa itu digunakan oleh Neil Armstrong dan masih memiliki jejak debu bulan di dalamnya. Badan luar angkasa Amerika Serikat itu pun memutuskan untuk menyimpannya.

Namun, Carlson berhasil menggugat NASA untuk mengembalikan tas tersebut, dan perhatian yang diciptakan oleh tantangan hukumnya mendorong banyak pertanyaan dari pembeli potensial, menurut Sotheby. Hal itu membuat Carlson memutuskan untuk melelang kembali tas tersebut.

Ada satu kelompok yang mengkritik keputusan untuk menjual tas tersebut yang merupakan sebuah potongan sejarah ruang angkasa.

“Tas itu ada di museum, jadi seluruh dunia dapat berbagi dan merayakan pencapaian manusia universal yang diwakilinya,” kata Michelle Hanlon salah satu pendiri For All Moonkind, seorang nirlaba yang dibentuk untuk membujuk Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menerapkan langkah-langkah guna melestarikan dan melindungi keenam situs pendaratan Apollo di bulan. Demikian dilansir dari Mirror, Sabtu (22/7/2017).

(bens – sisidunia.com)